Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Piala Dunia 2026

Perjalanan Traveler Kaltim Mengulik Kisah dan Legenda Fotuno Rete atau Wakumoro (Part 2)

Dwi Restu Amrullah • Minggu, 1 Juni 2025 | 09:00 WIB
CANTIK: Fotuno Rete di Pulau Muna memang menjadi salah satu destinasi yang luar biasa di Pulau Muna. Airnya jernih dan dingin.
CANTIK: Fotuno Rete di Pulau Muna memang menjadi salah satu destinasi yang luar biasa di Pulau Muna. Airnya jernih dan dingin.

 

FOTUNO sendiri bermakna kepala, sedangkan Rete artinya tanah. Fotuno Rete dalam Bahasa Indonesia artinya kepalanya tanah.

Sedangkan Wakumoro menunjukan tempat berada lokasinya. Yang mana Wakumoro merupakan salah satu desa administratif di Kecamatan Parigi, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.

Mata air Fotuno Rete juga merupakan sumber dari beberapa aliran sungai yang ada di Kecamatan Parigi dan pusat mata air yang mengaliri wilayah-wilayah pertanian masyarakat sekitar. Bila ditempuh dari Raha (Ibu kota Kabupaten Muna), jaraknya sekitar 60 kilometer atau sekitar 1,5 jam.

Setelah tiba di perempatan Jalan Pasar Desa Wakumoro, harus masuk sekitar 800 meter untuk bisa menemukan lokasi tersebut dari jalan utama poros Raha-Wakuru.

Konon, sebelum lokasi permandian dibuka untuk umum, hutan di Wakumoro menjadi daerah pembinaan teritorial untuk persembunyian masyarakat dari gangguan keamanan luar. Karena itu masih sangat banyak pohon-pohon tua yang dibiarkan tumbuh. Pohon-pohon itu juga bisa jadi pernah menjadi saksi bersejarah bagi keberlangsungan hidup masyarakat sekitar.

Tiba di tepi jalan lokasi permandian, aliran air permandian dapat terlihat dengan sangat jelas. Dikelilingi oleh pepohonan yang tinggi, warna air jelas tampak bening kebiruan. Pepohonan yang tumbuh di sekitar permandian ini ternyata sudah hidup puluhan tahun dan seakan menjadi penjaga permandian ini sejak dulu.

Tersiar pula kisah dari masyarakat, dulu mata air Fotuno Rete menjadi permandian bagi tujuh bidadari. Benar atau tidak, namun dari kisah itu diharapkan masyarakat dan wisatawan yang berkunjung tidak melakukan hal-hal yang melanggar etika dan norma selama berada di tempat tersebut. Seperti mengucapkan kata-kata yang tidak baik adalah pantangan utamanya.

Masyarakat setempat diketahui juga kerap menyelenggarakan ritual adat dan budaya turun temurun yang masih dilakukan hingga saat ini, memanfaatkan tempat dan mata air Fotuno Rete seperti tradisi menyambut bulan Safar. Sehingga, kawasan mata air itu harus tetap dijaga dan dilestarikan keberlangsungannya.

Konon pula, dalam cerita rakyat wisata alam mata air ini merupakan tempat masyarakat adat dahulu melakukan ritual adat untuk melakukan sidang dalam penyelesaian sengketa di antara masyarakat yang berselisih.

Dua masyarakat yang berselisih akan direndam ke dalam mata air setinggi pinggang untuk menyelesaikan sengketa, bila ada yang tenggelam di antara yang berselisih, berarti dia bersalah. Itu cerita dulu dan dipercaya masyarakat.

Editor : Dwi Restu A
#pulau muna #sulteng #kalimantan timur #Permandian #mata air alami