KALTIMPOST.ID - Sorotan publik MotoGP akhir pekan ini (5/10/2025) tertuju ke Sirkuit Mandalika. Balapan di Indonesia kerap menghadirkan cerita unik, penuh drama, dan tak jarang meninggalkan jejak sejarah.
Atmosfer panas sudah terasa sejak paddock dibuka. Para pebalap berusaha menemukan ritme terbaik, sementara para penggemar menunggu siapa yang akan tampil sebagai pahlawan di lintasan yang dikenal tricky ini.
Baca Juga: Marco Bezzecchi Pecahkan Rekor Lap Mandalika, Sementara Marc Marquez Alami Nasib Tak Terduga
Bagi Marc Marquez, GP Indonesia bukan sekadar balapan biasa. Ada beban sejarah yang selalu menempel di setiap aksinya di Mandalika.
Pebalap Ducati berusia 32 tahun itu baru saja memastikan gelar juara dunia ketujuhnya di Motegi pekan lalu. Namun, kemenangan besar itu justru memunculkan dua bayang-bayang kutukan yang siap menghantuinya.
Kutukan pertama datang dari Motegi. Dalam tiga musim sebelumnya (2014, 2016, 2018), Marc selalu gagal finis tepat satu seri setelah meraih gelar dunia di Jepang. Sementara kutukan kedua lahir di Mandalika, di mana Marc tak pernah tuntas di balapan utama sejak MotoGP Indonesia hadir kembali pada 2022. Catatan terbaiknya hanyalah finis ketiga di sprint race 2024.
Marc mengaku menyadari rekor buruk itu. Namun, kali ini ia mencoba lebih realistis. “Saya tidak ingin terlalu memaksa. Target pertama saya hanya finis. Target kedua, menikmati lima balapan terakhir musim ini tanpa tekanan,” ujarnya dikutip GPOne.
Di sisi lain, persaingan seru juga terjadi di perebutan posisi runner-up klasemen. Francesco Bagnaia masih memburu Alex Marquez dengan selisih 66 poin. Meski tipis peluangnya, Pecco—sapaan Bagnaia—menegaskan tetap akan berjuang habis-habisan.
Baca Juga: Timnas Indonesia Satu Pesawat dengan Jamaah Umrah, Begini Ceritanya
Alex sendiri enggan larut dalam selebrasi sang kakak. Ia memilih fokus untuk mempertahankan runner-up. “Marc sudah selesaikan misinya, tapi saya belum. Jadi, saya harus istirahat,” katanya sambil tersenyum.
Akhir pekan ini, Mandalika akan jadi saksi: apakah Marc berhasil mematahkan dua kutukan, atau justru sejarah kembali terulang. (*)
Editor : Ery Supriyadi