BALIKPAPAN – Puluhan dokter saraf melakukan bakti sosial (baksos) intervensi nyeri bagi warga Kota Minyak, Sabtu (9/3). Kegiatan berlangsung di Klinik Nyeri RS Pertamina Balikpapan (RSPB). Hasil kerja sama RSPB dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (Perdosni) Kaltimtara.
Dokter Spesialis Saraf RSPB Fajar Rudy Qimindra mengatakan, total pasien yang mendapat penanganan mencapai 63 orang. Ada berbagai macam kasus nyeri dengan tingkat kesulitan masing-masing. “Sebagian besar mengeluhkan nyeri lutut sekitar 20 orang,” ucapnya.
Kemudian, kasus nyeri tangan carpal tunnel syndrome (CTS) 12 orang, nyeri bahu 8 orang, kesemutan kaki 6 orang, dan nyeri pinggang piriformis syndrome 5 orang. Lalu, ada kasus trigger finger atau jari pelatuk 4 orang dan nyeri leher 4 orang. Serta kasus istimewa pasien yang menderita drop hand atau tangan keple.
“Pasien sembuh setelah lima kali suntikan dalam waktu kurang 3 bulan,” katanya. Ketua Perdosni Kaltimtara ini menambahkan, kebanyakan kasus nyeri selama ini ditangani seperti frozen shoulder syndrome (FSS). Rasa nyeri bahu yang kronik susah digerakkan dan nyeri sendi lutut.
Dalam penanganan nyeri, pihaknya melakukan pemeriksaan bagian kepala, pundak, lutut hingga kaki dengan alat bantu ultrasonografi (USG). “Semua dilakukan dengan panduan USG untuk presisi dan ketepatan injeksi,” ucap pria yang akrab disapa Qimi tersebut.
Dia menyebutkan, intervensi nyeri bisa terjadi di berbagai titik. Mulai dari bahu, siku, pergelangan tangan, dan jari. “Kemudian nyeri di bokong, lutut, pergelangan kaki, dan telapak kaki,” ungkapnya. Salah satu pasien, Nesha ikut menjalani perawatan karena mengidap drop hand atau tangan keple.
Dia bercerita, awalnya mengalami patah tangan di bagian lengan atas dan mendapat operasi pemasangan pen. Sempat fisioterapi dan akupuntur selama beberapa bulan, namun tangan masih tidak bisa digerakkan. Kemudian pemeriksaan MRI, saat itu baru diketahui tangan tak hanya patah, namun sudah mengenai saraf.
Hingga akhirnya, Nesha berkonsultasi dengan Qimi dan mendapat pemeriksaan elektromiografi (EKG) untuk mengetahui saraf masih dapat bekerja atau tidak. “Saat patah tulang ternyata menekan saraf dan terjadi sumbatan saraf,” ucapnya. Itu yang membuat tangan sulit digerakkan, bahkan tak bisa diangkat sama sekali atau drop hand.
“Menggenggam bisa tapi kalau mengangkat tangan tidak bisa. Akhirnya, Dokter Qimi menyarankan injeksi yang memberikan vitamin ke saraf,” tuturnya. Selama pengobatan, Nesha mendapat tindakan penyuntikan sebanyak lima kali. Penyuntikan pertama dan kedua terlihat ada perubahan, tangan sudah bisa digerakkan.
Selanjutnya, penyuntikan ketiga dan keempat separuh tangan bisa diangkat. Hingga terakhir suntikan kelima semua tangan bisa diangkat termasuk jari-jari. “Tindakan ini tidak instan tapi harus bertahap setiap suntikan dilakukan dengan jeda sekitar 2 minggu sampai 1 bulan,” sebutnya.
Dia mengingatkan, setiap tindakan tentu tidak bisa langsung sembuh. Melainkan ada masa pemulihan hingga akhirnya bisa terlihat efek tindakan. “Ini didukung konsumsi makanan bergizi tinggi protein, rajin olahraga untuk melatih kekuatan tangan. Sekarang, tangan sudah bisa diangkat dan beraktivitas seperti semula,” tutupnya. (ms/k15)
DINA ANGELINA
dinaangelina6@gmail.com
Editor : Ismet Rifani