Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Musim Hujan, DKK Imbau Warga Balikpapan Waspada DBD

Maria Irham • Kamis, 22 Agustus 2024 | 13:28 WIB

Photo
Photo
dr. IDG Dony Lesmana

 BALIKPAPAN- Memasuki musim penghujan, masyarakat diimbau untuk mewaspadai penyakit demam berdarah dengue (DBD) dan sejumlah penyakit yang mudah menyerang tubuh.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Balikpapan melalui Ketua Tim Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dr I Dewa Gede Dony Lesmana. Menurutnya curah hujan yang belakangan ini cukup tinggi di kota Balikpapan menyisahkan genangan air di mana-mana. Berpotensi tinggi menghadirkan jentik nyamuk Aedes aegypti, sehingga menimbulkan ancaman munculnya penyakit demam berdarah.

Ia menjelaskan, dari data saat ini kasus DBD di Kota Balikpapan meningkat dari tahun lalu. "DBD tahun ini lebih tinggi dari tahun lalu, tahun lalu sepanjang 2023 jumlah kasus penderita DBD di angka 1.019 kasus. Tahun ini, hingga Agustus sudah ada 1.040 kasus dengan 1 kasus kematian," jelas dr Dewa saat ditemui, Selasa (20/8).

Ia mengatakan bahwa selain faktor iklim atau curah hujan, kepadatan penduduk sangat terasa menjadi faktor peningkatan kasus DBD di Balikpapan. "Walau berbagai cara dan upaya telah kita lakukan, belum bisa mampu efektif melawan penyebaran kasus DBD di Balikpapan. Selain itu juga karena air bersih di Balikpapan kini cukup susah sehingga kebiasaan masyarakat untuk menampung air hujan semakin tinggi," katanya.

Sebenarnya, sebut Dewa, menampung air hujan tidak ada masalah tetapi sebaiknya dilakukan dengan cara yang tepat, yakni dengan menutup rapat tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi maupun drum. "Ditutup dan dibersihkan. Beberapa kali saat kami turun ke lapangan oleh tim di kelurahan melihat ember atau drum terdapat jentik dan warga tidak ingin membuang airnya, karena merasa sayang, padahal menampung air hujan dengan proses yang salah akan menciptakan tempat nyamuk bertelur dan berkembang," sebutnya.

"Jadi meningkatnya kasus di DBD tahun ini selain jumlah penduduk yang semakin padat, perubahan iklim juga kebiasaan menampung air hujan semakin tinggi Karena susah air bersih," tambah Dewa.

Ia menerangkan bahwa kasus DBD tertinggi hingga minggu ke-33 berada di Balikpapan Tengah, yakni Kelurahan Gunung Sari Ilir. "Gunung Sari Ilir ini selama lima minggu berturut-turut selalu tinggi kasusnya. Salah satu alasannya adalah kepadatan penduduknya yang meningkat, kemudian aliran air yang macet sehingga genangan genangan menjadi tempat bersarangnya nyamuk," terangnya.

 "DBD ini bila semakin rapat populasi maka nyamuk itu mudah sekali untuk mencari mangsa di sekitarnya. Menyebabkan meningkatnya kasus risiko penyebaran DBD. Jadi sampai saat ini menjadi PR sekali bagi kita bagaimana cara memberdayakan masyarakat untuk menjadi pengawas jentik," lanjut dr Dewa.

Berbagai upaya katanya telah dilakukan Dinas Kesehatan Balikpapan, mulai dari selalu meng-update data perkembangan kasus DBD melalui sosial media. "Mulai dari penambahan kasus hingga wilayah mana yang menjadi zona merah yang tinggi kasusnya di update di sana," bebernya.

 Selain itu pihaknya juga menyediakan alat tes cepat di setiap Puskesmas. Alat ini dapat digunakan untuk mendeteksi cepat demam berdarah dalam waktu satu atau dua hari. "Kita juga menggerakkan tenaga kesehatan di lingkungan Puskesmas untuk sering turun ke lapangan melakukan penyelidikan bila ada laporan kasus DBD. Kita memberikan deadline 2 × 24 jam bila terima laporan mereka harus langsung memberikan laporan," ujarnya.

Selain upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan, dirinya pun berharap agar masyarakat ikut andil dalam memberantas penyebaran DBD. Dibutuhkan kepedulian masyarakat luas bukan hanya 1 atau 2 orang.  "Kami mengimbau minimal di setiap rumahnya ada satu orang yang bertugas mengecek jentik. Kemudian bila ada kasus DBD di lingkungannya segera melakukan pelaporan dengan menghubungi hotline Dinas Kesehatan, kasus apapun bisa. Dan yang terpenting, ketika dianjurkan untuk periksa darah maka lakukan pemeriksaan, Karena untuk mendeteksi apakah ini penyakit DBD atau bukan," ungkapnya.

Kemudian program pemerintah terkait kerja bakti massal pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di masyarakat untuk kembali dijalankan. "Wali kota pernah mengeluarkan edaran untuk kerja bakti massal PSN di mana setiap Jumat atau dua minggu sekali dianjurkan untuk dilakukan kerja bakti dan mungkin hingga kini itu belum optimal belum bisa dieksekusi dengan baik di tingkat bawah. Padahal bila itu dilakukan secara teratur ini bisa menekan laju kasus DBD misalnya dengan pemantauan jentik, pemantauan tempat perindukan nyamuk. Karena bila kita hanya melakukan fogging dan memberikan abate itu ibarat pemadam kebakaran, hanya bisa matikan kebakarannya tetapi tidak mencegah terjadinya kebakaran yang berulang," jelasnya.

"Pencegahan itu hanya satu, perangi jentik dengan menerapkan 3M. Memang klise tetapi ini cara yang paling efektif untuk memerangi jentik, yakni menguras menutup dan mendaur ulang tempat penampungan dan barang bekas. Dan sering-sering memantau jentik di rumahnya masing-masing," pungkasnya. Untuk Hotline pelaporan Dinas Kesehatan dapat menghubungi 0811 5432 133. (mra/ms)

Editor : Ismet Rifani
#dkk balikpapan #dbd balikpapan