
Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Esais dan Penulis Buku
KALTIMPOST.ID, Pembangunan nasional di segala sektornya membutuhkan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Semakin banyak jumlah SDM yang berkualitas, besar harapan bagi bangsa dan negara ini untuk bukan hanya mengejar ketertinggalan, tapi juga untuk menjadi bangsa yang maju. Terkait hal itu, menyeruaklah sebuah pertanyaan: sudahkah kita mempersiapkan semuanya? Termasuk sarjana kita hari ini, apakah sudah menjadi sarjana yang kompeten?
Sebab, tidak sedikit dari kita yang begitu mengkhawatirkan membeludaknya kuantitas sarjana di negeri ini tidak disertai dengan jaminan mutunya. Padahal, kita sedang berupaya mengambil manfaat dari bonus demografi. Berharap penuh pemuda-pemuda kita menjadi problem solver dan sekaligus akselerator pembangunan nasional.
Rasanya kita sukar menutup mata bahwa sebagian lulusan perguruan tinggi belum sepenuhnya kompeten, yakni belum memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap untuk menyelesaikan tugas/pekerjaan tertentu, khususnya yang dibutuhkan di dunia industri.
Inkompetensi sarjana kita juga ditandai dengan bidang keilmuan yang dipelajarinya semasa kuliah yang tidak dipahami atau dikuasai betul. Hal ini menjadikan sebagian sarjana kita sukar diserap di dunia industri. Mungkin hanya sampai tahapan seleksi administrasi, setelahnya berguguran satu per satu.
Baca Juga: Wajah Baru Industrialisasi Perguruan Tinggi
Sebab, perusahaan pun tidak mau asal merekrut calon karyawan yang tidak memenuhi kualifikasi. Dalam hal ini, inkompetensi lulusan perguruan tinggi menjadi salah satu penyebab pengangguran terdidik semakin menjamur. Belum lagi persoalan kesenjangan antara dunia industri dan perguruan tinggi.
Artinya, apa yang dipelajari di kampus kadang berseberangan atau bahkan tidak relevan dengan kebutuhan industri. Output yang dihasilkan kampus nyatanya masih dianggap mentah, alias belum matang atau belum siap pakai. Ditambah lapangan pekerjaan yang memang terbatas tidak sebanding dengan lulusan kampus yang menurut BPS sampai menyentuh angka 1,9 juta setiap tahunnya.
Maka tidak heran jika setiap acara job fair, jumlah pengunjungnya membeludak. Mereka berdesak-desakan berharap adanya titik terang terkait nasib dan masa depannya. Tidak sedikit yang banting setir alias memilih bekerja tidak sesuai dengan bidang keilmuan atau keahliannya. Bisa jadi karena sudah terlalu lama, bosan, dan lelah menunggu kepastian akan dibukanya lowongan pekerjaan yang sesuai bidangnya.
Sementara esok ia harus makan atau menghidupi keluarganya. Sebab, pastinya ada sarjana-sarjana kita yang telah menjadi tulang punggung keluarga, entah itu karena keadaan atau kemauannya sendiri. Di lain sisi, tagihan listrik harus dibayar, paket data harus diisi, tabung gas LPG harus terisi, BBM motor tidak boleh habis, lalu sampai kapan harus menunggu pekerjaan yang sesuai selera?
Membahas pengangguran terdidik, memang tidak bisa dilihat dari satu sudut pandang. Bisa jadi lapangan pekerjaannya sudah ada, hanya saja sarjana kita tidak memenuhi kualifikasi. Apalagi sekarang era digital, di mana kadang tidak sedikit perusahaan yang menuntut calon karyawannya memiliki sejumlah kemampuan khusus seperti halnya teknologi digital.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




