KALTIMPOST.ID-Pelaku industri kelapa sawit di Indonesia akan diminta bekerja dengan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes).
Kebijakan ini akan dilakukan oleh Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes-PDT).
Kebijakan ini meniru yang sudah dilaksanakan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Kerja sama tersebut dapat menghasilkan pendapatan asli desa hingga mencapai puluhan miliar.
Hal ini diungkapkan oleh Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes-PDT) Yandri Susanto.
Pernyataan ini disampaikan dalam Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (7/11).
Dia menegaskan rencananya untuk memanggil para pengusaha kelapa sawit yang disebutnya dengan “naga”.
Mereka diminta bekerja sama dengan pemerintah desa setempat yang berada di wilayah kerja perkebunan sawit tersebut.
“Saya akan panggil nanti. Atau saya akan rapat dengan para ‘naga-naga’ sawit itu. Saya bilang, kamu enggak usah mau menang sendiri. Bantu itu desa. Saya akan ngomong itu. Udahlah duit itu enggak dibawa mati ya, kan. Bagi-bagi ke desa itu,” katanya di kanal TV Parlemen, Kamis (7/11).
Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) ini menerangkan bahwa dirinya sudah bertemu dan mendapat banyak informasi dari Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Desa Sawit Indonesia (DPP ADESI) Zeky Hamzah.
Zeky Hamzah juga Kepala Desa (Kades) Tepian Langsat di Kabupaten Kutim. Dalam pertemuan di Gedung Sasana Manggala Praja, Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Yandri Susanto menerangkan bahwa desa-desa yang memiliki perkebunan sawit membentuk asosiasi yang berkolaborasi dengan pelaku industri kelapa sawit.
Dari data yang diterimanya, ada sebanyak 400 desa yang bersinggungan dengan kebun kelapa sawit dan bergabung dalam ADESI tersebut. Salah satu desa yang berhasil membangun kerjasama dengan pelaku industri kelapa sawit adalah Tepian Langsat di Kabupaten Kutim.
“Saya tanya, berapa penghasilan kamu kerja sama dengan perkebunan kelapa sawit ini? Rp 27 miliar per tahun melalui Bumdes. Ini saya mau replikasi juga,” jelas dia.
Pria yang sering menggunakan kopiah ini juga mengungkapkan bahwa selain memperoleh pendapatan melalui Bumdes sebesar Rp 27 miliar, ADESI juga mendapatkan unit dump truck dari pengusaha industri kelapa sawit.
Dia mengaku telah diminta oleh DPP ADESI untuk hadir dalam penyerahan dump truck tersebut secara simbolis. “Di samping Rp 27 miliar ini dari perkebunan ini, dia (perusahaan kelapa sawit) memberikan 63 dump truck. Saya nanti yang akan menyerahkan,” tuturnya.
Oleh karena itu, Yandri Susanto mengatakan akan berkunjung ke Desa Tepian Langsat, Kabupaten Kutim pada awal Desember mendatang. Dia berjanji akan menginap serta berdiskusi dengan DPP ADESI beserta Bumdes yang bekerjasama dengan perusahaan kelapa sawit tersebut.
“Saya akan ke sana nanti. Di awal Desember. Lewat darat 6 jam, saya akan menginap di desa itu. Dia punya kerja sama antara perkebunan kelapa sawit dengan desa. Ini contohnya, maka saya mau replikasi. Jadi saya akan menginap di rumah pak kepala desa ini di Kutai Timur. Di rumahnya Pak Zeky Hamzah. Saya sudah banyak diskusi, artinya replikasi yang begini akan saya jadikan contoh tempat lain,” janji dia.
Dia juga menegaskan tidak akan segan-segan menindak keras terhadap perusahaan kelapa sawit yang tidak peduli terhadap kesejahteraan desa di sekitarnya. Oleh karena itu, Yandri Susanto berharap dukungan dari Komisi V DPR RI, selaku mitra Kemendes-PDT.
“Kita harus keras. Kalau demi keadilan kita enggak usah takut. Kalau demi rakyat, kita harus berani. Apapun itu halangannya. Hidup sekali, apa juga yang mau kita cari, kan. Nah maka saya perlu dukungannya,” pungkasnya.(*)
Editor : Thomas Priyandoko