BALIKPAPAN – Kelurahan Karang Jati di Balikpapan Tengah, yang selama ini dikenal sebagai kawasan padat penduduk, tengah bertransformasi. Tidak lagi sekadar cerita tentang sempitnya ruang dan gelapnya malam yang rawan, kini warga mulai merasakan harapan baru melalui sentuhan ilmu pengetahuan dan kepedulian sosial.
Semua bermula dari sebuah inisiatif pengabdian masyarakat bertajuk "Optimalisasi Penerangan Jalan Umum (PJU) dan Pembuatan Bak Sampah dengan Drying System di Kelurahan Karang Jati sebagai Upaya Meningkatkan Keamanan dan Kenyamanan Warga" yang digagas oleh tim peneliti dari Institut Teknologi Kalimantan (ITK) beranggotakan delapan nama: Barokatun Hasanah, Andi Alif Hasanudin, Abdul Rahman B, Asti Azarini, Muh. Nur Rafliza Az’zahira, Puja Ananda, Reza Christine Hutabarat, dan Tedikha Wardana.
Mereka bukan hanya datang dengan konsep, tapi membawa solusi nyata bagi warga Karang Jati. Dalam satu paket kegiatan, tim ini memadukan dua kebutuhan vital: penerangan jalan umum yang layak dan pengelolaan sampah rumah tangga yang lebih sehat dan efisien.
Terang yang Aman dari Energi Surya
Di sepanjang Jl. Karang Jawa, lampu-lampu tenaga surya mulai dipasang. Tidak sekadar lampu, tetapi buah dari perencanaan detail berbasis SNI 7391:2008, yang memperhitungkan tinggi tiang, sudut kemiringan, hingga kapasitas baterai. Cahaya ini menyinari malam-malam yang sebelumnya gelap, sekaligus menekan risiko kriminalitas yang sering menghantui warga di kawasan padat ini—yang menurut data, dihuni oleh 591 jiwa per hektar.
“PJU ini tidak hanya soal penerangan, tapi bagian dari upaya menghadirkan rasa aman bagi masyarakat. Dan lebih dari itu, sebagai sarana edukasi tentang teknologi ramah lingkungan,” ungkap Barokatun Hasanah, salah satu peneliti utama.
Sampah yang Kering, Lingkungan yang Bersih
Sementara di sisi lain, satu persoalan klasik warga padat seperti Karang Jati juga mendapat perhatian serius: sampah. Maka dibangunlah bak sampah dengan sistem pengeringan (drying system), sebuah inovasi yang sederhana namun berdampak besar.
Dengan mengandalkan panas matahari, sistem ini mampu mengeringkan sampah organik, mengurangi bau tak sedap, memperlambat pembusukan, sekaligus menekan risiko pencemaran. Ini bukan hanya soal tempat buang sampah, tapi cara mendidik warga untuk mulai memilah dan mengelola sampah dari rumah.
“Banyak orang berpikir bahwa pengelolaan sampah itu tanggung jawab pemerintah. Tapi kami ingin menunjukkan bahwa teknologi sederhana juga bisa menjadi alat edukasi. Sampah bukan hanya untuk dibuang, tapi bisa dikelola untuk nilai tambah,” jelas Andi Alif Hasanudin.
Dari Warga, Oleh Warga, untuk Lingkungan Mereka Sendiri
Yang membuat program ini berbeda adalah pendekatannya. Warga tidak hanya jadi objek, tapi juga pelaku utama. Mulai dari tahap perencanaan, pelatihan teknis, perakitan hingga perawatan, mereka dilibatkan sepenuhnya.
Dibentuklah Kelompok Swadaya Masyarakat (Pokmas) yang kini menjadi ujung tombak keberlanjutan program. Pelatihan dilakukan dari tingkat RT hingga warga secara individu, dengan bahan visual edukatif yang mudah dicerna semua kalangan usia.
“Kami tidak hanya pasang lampu atau buat bak sampah. Kami membangun kesadaran, membentuk budaya baru yang lebih peduli terhadap lingkungan,” tutur Asti Azarini.
Edukasi yang Mengakar, Dampak yang Terukur
Program ini punya dampak ganda: fisik dan psikologis. Secara fisik, Karang Jati menjadi lebih terang dan bersih. Secara psikologis, warga merasa lebih terlibat, dihargai, dan memiliki andil dalam perubahan. Ini sekaligus menjawab arahan penting pembangunan berbasis data dan kebutuhan lokal yang belakangan menjadi fokus pemerintah.
Muh. Nur Rafliza Az’zahira, anggota tim lainnya, menyebut bahwa data sosial dan ekonomi menjadi dasar perencanaan, bukan asumsi. “Kami melihat potensi lokal, karakter wilayah, dan kebutuhan warga. Kami ingin ini bisa direplikasi di wilayah lain yang punya tantangan serupa,” ujarnya.
Harapan dari Karang Jati
Apa yang dilakukan oleh tim ini bukan proyek biasa. Ini adalah contoh bagaimana inovasi teknologi, pendekatan edukatif, dan pemberdayaan warga bisa berpadu dalam solusi yang membumi. Mereka membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari lorong-lorong sempit, dari halaman rumah warga yang bersedia berubah.
“Kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi?” tutup Tedikha Wardana.
Dari Karang Jati, Balikpapan, cahaya kini bukan hanya datang dari lampu-lampu tenaga surya. Tapi juga dari harapan baru, bahwa warga, ilmu, dan kemauan bisa jadi kekuatan nyata untuk mengubah lingkungan menjadi lebih aman, nyaman, dan berkelanjutan.
Editor : Muhammad Ridhuan