BALIKPAPAN - Perkara banjir DAS Klandasan Besar (Ampal) selalu menjadi langganan di Balikpapan. Mengatasi masalah saban tahun ini, Pemkot Balikpapan harus menggelontorkan dana tak sedikit.
Penanganan banjir DAS Ampal perlu terstruktur dari hulu hingga hilir. Total panjang kurang lebih 4 kilometer. Mulai dari pelebaran saluran, pembuatan bendali, dan pembangunan rumah pompa.
“Masalahnya pelebaran saluran membutuhkan pembebasan lahan cukup besar,” kata Wakil Wali Kota Balikpapan Bagus Susetyo. Kajian ini sudah dibuat sejak 2019 lalu.
Kala itu, pembebasan lahan saluran primer Ampal dengan perhitungan harga NJOP setidaknya membutuhkan anggaran Rp600 miliar. Kemudian pembebasan bangunan Rp400 miliar.
dasBaca Juga: Tenang, DPRD Balikpapan Pastikan Dukung Anggaran Seragam Gratis dan Bangun Sekolah Baru Setiap Tahun
“Kalau kondisi sekarang kemungkinan alokasi yang diperlukan mencapai Rp1,6 triliun,” ucapnya. Mengingat setiap tahun harga NJOP meningkat, maka kebutuhan dana semakin besar.
Selain itu, upaya mengurangi banjir juga perlu dengan membangun bendali. Total mencapai sekitar 40 bendali. “Sampai saat ini yang telah dibangun ada 6 bendali,” sebutnya.
Dia menjelaskan, Pemkot Balikpapan telah membebaskan 10 hektar untuk Bendali Ampal Hulu pada 2024. Total biaya sebesar Rp 47 miliar. Sedangkan pembangunan fisik berharap bantuan dari Kementerian PUPR.
“Tepatnya melalui Balai Wilayah Sungai IV Samarinda maupun Pemprov Kaltim,” ujarnya. Serta langkah lainnya dengan pembangunan rumah pompa. Salah satunya yang terletak di samping Hotel Zurich.
“Butuh 7 rumah pompa berdasarkan kajian DAS Ampal,” tuturnya. Ada pun kerja dan fungsi pompa untuk mempercepat laju aliran pada saluran drainase atau sungai.
Jika semua titik pompa terbangun ketika banjir terjadi, pompa dapat bekerja secara paralel dari hulu ke hilir. Itu dilakukan agar mempercepat aliran air.
Sehingga area genangan atau banjir dapat lebih cepat surut. Dia menyetujui saran dari fraksi-fraksi agar perlu kajian ulang terhadap penanganan banjir. “Mungkin ada berbagai pilihan alternatif terbaik untuk pengendalian banjir pada DAS Ampal,” ucapnya. Sekaligus mengevaluasi pekerjaan yang ada saat ini.
Editor : Muhammad Ridhuan