KALTIMPOST.ID-Kementerian Agama (Kemenag) Balikpapan menggelar Focus Group Discussion (FGD) terkait Penguatan Deteksi Dini Konflik Sosial Berdimensi Keagamaan dengan tema “Penguatan Deteksi Dini Sosial Keagamaan”.
Kegiatan dilaksanakan di Aula Kantor Pusat Layanan Haji dan Umrah Terpadu (PLHUT), Kecamatan Balikpapan Barat, Senin (28/7).
Kegiatan dihadiri Kepala Kemenag Balikpapan Masrivani didampingi Kasi Bimas Islam Kemenag Balikpapan Abdul Hamid beserta jajaran, dan mantan kepala Kemenag Balikpapan Hakimin Patang.
Diikuti oleh peserta terdiri dari kepala KUA, penyuluh agama Islam, lembaga/ormas keagamaan Islam.
Setelah membuka FGD, Masrivani memaparkan materi Identifikasi Potensi Konflik Sosial Berdimensi Keagamaan. Kemudian dilanjutkan dengan mengisi kuesioner secara daring.
Masrivani menegaskan kegiatan itu bertujuan untuk memperkuat sinergi antara Kemenag dengan berbagai mitra strategis seperti para penyuluh agama, Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan Dewan Masjid Indonesia (DMI).
Langkah itu diambil sebagai upaya deteksi dini terhadap potensi konflik keagamaan.
Khususnya di internal umat Islam, yang dikhawatirkan bisa muncul seiring dampak hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kaltim.
Ia menambahkan konsentrasi utama deteksi konflik diarahkan pada potensi gesekan antar-pemahaman keagamaan yang berkembang di internal umat Islam sendiri, yang bisa mengganggu kerukunan jika tidak diantisipasi sejak dini.
Langkah Kemenag Balikpapan itu sekaligus menjadi bagian dari komitmen mewujudkan kehidupan beragama yang harmonis di tengah perubahan besar yang akan terjadi di Kalimantan. Khususnya Balikpapan sebagai kota penyangga IKN.
“Melalui penguatan sinergi itu, kita berharap kerukunan, kedamaian, dan keamanan di Balikpapan bisa terus terjaga sesuai harapan kita bersama,” ujarnya.
Baca Juga: Pemkot Samarinda Gandeng UGM Perkuat Lingkungan, Transportasi, dan Tata Kota Berbasis Teknologi
Sementara itu, Abdul Hamid menambahkan tujuan utamanya dalam kegiatan itu adalah agar pihaknya dan para peserta bisa memahami serta mengerti kondisi dan situasi keberadaan agama dan perbedaan di Balikpapan.
“Harapannya sebagai umat Islam mampu menyaring diri kita dengan keluarga kita. Khususnya bagi umat Islam agar tidak terpengaruh dengan hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam,” paparnya.
Menurutnya, keberagaman agama dan keyakinan di Indonesia merupakan sebuah realitas yang tidak bisa dihindari.
Justru harus disikapi dengan sikap toleran, bijak, dan tetap berpegang teguh pada ajaran agama masing-masing.
“Berharap, melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memahami perbedaan, tetapi juga mampu menjadikannya sebagai landasan untuk memperkuat nilai-nilai moderasi beragama. Tentunya sebagai umat Islam, kita mampu menjaga diri dan keluarga dari pengaruh hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam,” terangnya. (taw/pms/rd)
Tonywijaya2802@gmail.com
Editor : Romdani.