KALTIMPOST.ID-Sejak dua tahun terakhir, Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Balikpapan Timur kebanjiran peserta didik. Ada yang memang datang karena tidak kebagian daya tampung di sekolah negeri.
Menariknya semakin ke sini, tak sedikit siswa yang sengaja memilih SKB sebagai tujuan pertama pendidikan. Mereka sedari awal mendaftar di SKB Balikpapan Timur dalam sistem penerimaan murid baru (SPMB).
Kepala SKB Balikpapan Timur Ibrahim bercerita, mereka terbukti sengaja memilih SKB. Sebab belum mencoba daftar ke sekolah terdekat atau sesuai domisili.
“Tapi sudah langsung ke SKB, mendaftar bersama orangtua. Sebagian besar begitu," katanya kepada Kaltim Post. Hal itu terasa sejak tahun ajaran 2024/2025.
Apalagi seperti di sekolah formal negeri, SKB juga berlaku hal yang sama. Tak ada pungutan SPP dan sebagainya. Alias semua biaya gratis.
Setiap anak tetap mendapatkan jatah dana bantuan operasional sekolah (BOS). Baik pusat maupun daerah. “Alhamdulillah siswa SKB Balikpapan Timur paling banyak di Indonesia,” ucapnya.
Sebagai informasi, kini total terdapat 1.591 siswa di SKB Balikpapan Timur. Mereka siswa dari jenjang PAUD, SD, SMP, dan SMA. Mulai siswa usia sekolah dan siswa usia dewasa.
Itu menjadikan SKB Balikpapan Timur sebagai SKB dengan peserta didik terbanyak di Tanah Air.
Ijazah pendidikan kesetaraan diakui pemerintah dan bisa digunakan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan formal.
Meski menjadi pilihan pertama, Ibrahim dan guru lainnya tetap memotivasi siswa. Ketika mereka lulus dari SKB agar melanjutkan jenjang pendidikan berikutnya ke sekolah formal.
“Tapi ada yang justru tetap melanjutkan di SKB. Merasa di sini lebih enak dan fleksibel,” tuturnya.
Dia pun mengakui, sebagian besar siswa SKB merupakan anak yang kurang beruntung.
Misalnya karena latar belakang ekonomi yang kurang, keluarga broken home, dan sebagainya. Rata-rata karena kondisi mereka tidak menguntungkan
“Siswa kami ada yang di panti asuhan dan pondok pesantren,” imbuhnya. Misal tinggal di Gunung Bakaran sampai Teritip memilih sekolah di SKB Balikpapan Timur.
Ada siswa yang harus bekerja menjadi pemulung. “Pulang dari sekolah, sore memulung untuk menghidupi dirinya dan neneknya,” ucapnya penuh haru.
Dengan kondisi tersebut, guru dituntut harus aktif memantau siswa. Bagaimana mereka tetap mendapat semangat mengenyam pendidikan.
Sehingga dengan bekal ilmu bisa memiliki masa depan yang cerah. “Kondisi anak-anak kita di sini tidak seperti anak-anak yang beruntung pada umumnya,” sebutnya.
Terutama membuat mereka tidak sedih dan mau aktif turun ke sekolah. Itu perlu metode pendekatan kepada siswa.
Guru bisa menyentuh hati siswa dulu dan membujuk mereka mau belajar. “Kalau mereka senang, insyaallah akan otomatis belajarnya mau dan semangat lagi,” pungkasnya. (gel/rd)
Editor : Romdani.