Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Balikpapan Masuk 10 Daerah Biaya Hidup Termahal di Indonesia, UMK Sebulan Masih Cukup?

Khoirun Nisa • Selasa, 19 Agustus 2025 | 08:50 WIB

Balikpapan masuk 10 besar wilayah biaya hidup terbanyak.
Balikpapan masuk 10 besar wilayah biaya hidup terbanyak.
KALTIMPOST.ID, Dikenal sebagai kota yang bersih, rapi, dan nyaman, Balikpapan sering kali disebut sebagai salah satu kota terbaik untuk ditinggali.

Namun, di balik wajah modernnya, ada fakta menarik yang kerap luput dari perhatian: biaya hidup di Balikpapan ternyata termasuk yang tertinggi di Indonesia.

Menurut Survei Biaya Hidup (SBH) 2022 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), Balikpapan rupanya bersanding dengan kota-kota besar lainnya dalam daftar 10 kota dengan biaya hidup termahal di Indonesia.

Dengan rata-rata pengeluaran mencapai Rp9,8 juta per bulan, posisi Balikpapan berada di urutan ke-10.

Buat kamu yang belum tahu, pengukuran dilakukan terhadap sampel 240.000 rumah tangga yang tersebar di 150 kabupaten/kota berdasarkan nilai konsumsi rata-rata rumah tangga per bulan.

Pengukuran mencatat pengeluaran konsumsi bulanan untuk komoditas makanan dan nonmakanan.

Angka itu hanya terpaut sedikit dari kota-kota lain seperti DKI Jakarta (Rp14,88 juta), Bekasi (Rp14,33 juta), Surabaya (Rp13,36 juta), Depok (Rp12,35 juta), Makassar (Rp11,50 juta), Tangerang (Rp10,96 juta), Bogor (Rp10,73 juta), Kendari (Rp10,23 juta), dan Batam (Rp10,2 juta).

Ironisnya, Upah Minimum Kota (UMK) Balikpapan pada tahun 2025 hanya ditetapkan sebesar Rp3.701.508.

Ini artinya, jika seseorang hanya mengandalkan UMK, ia hanya mampu memenuhi sekitar 37% dari total biaya hidup ideal yang ditetapkan oleh BPS. Kesenjangan lebih dari Rp6 juta per bulan ini menjadi tantangan berat bagi para pekerja.

Ketika Harga dan Sewa Tak Kenal Kompromi

Tingginya biaya hidup di Balikpapan bukan tanpa alasan. Faktor logistik menjadi penyebab utama, di mana harga bahan pokok cenderung lebih mahal karena distribusinya masih sangat bergantung dari luar Kalimantan.

Selain itu, harga sewa tempat tinggal di kawasan strategis seperti Balikpapan Tengah dan Balikpapan Baru tergolong tinggi, memaksa banyak pekerja mencari hunian di pinggiran kota.

Tak hanya itu, biaya transportasi, konsumsi listrik, hingga makanan di luar rumah pun terasa lebih mahal dibandingkan kota-kota lain di Jawa.

Kondisi ini sangat dirasakan oleh para pekerja di sektor informal, retail, dan UMKM. Gaji yang pas-pasan membuat mereka harus memutar otak agar bisa bertahan hidup.

Pilihan untuk tinggal di luar kota, mengurangi konsumsi makanan bergizi, atau bahkan berutang menjadi hal yang lumrah untuk memenuhi kebutuhan dasar. Gaya hidup urban yang ditawarkan Balikpapan tak selalu bisa dinikmati oleh semua warganya.

Pertumbuhan Kota Harus Sejalan dengan Kesejahteraan

Meningkatkan UMK adalah langkah awal yang baik, namun belum cukup jika tidak diikuti oleh solusi yang lebih komprehensif. Pengendalian harga pangan dan sewa melalui regulasi daerah menjadi hal krusial.

Selain itu, pemberdayaan UMKM dan ekonomi kreatif dapat membuka peluang bagi masyarakat untuk memiliki lebih dari satu sumber penghasilan.

Balikpapan memang indah, modern, dan terus tumbuh sebagai kota penyangga utama Ibu Kota Nusantara (IKN). Namun, pertumbuhan ini tidak boleh mengorbankan kesejahteraan warganya.

Sebuah kota layak huni bukan hanya dinilai dari megahnya infrastruktur, tetapi juga dari apakah seluruh warganya bisa hidup dengan layak dan sejahtera.

Sudah saatnya pertumbuhan ekonomi di Balikpapan dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat, bukan hanya mereka yang berada di jajaran eksekutif. Kalau kamu, berapa biaya hidup yang kamu keluarkan per bulan? (*)

Editor : Almasrifah
#biaya hidup termahal di Indonesia #Biaya Hidup di Balikpapan #kota terbaik #badan pusat statistik #balikpapan