KALTIMPOST.ID-Durasi pameran selama 39 hari menjadi magnet tersendiri. General Manager Novotel Balikpapan Eko Anom Purboyanto menyebut, ini pertama kalinya hotel menggelar pameran batik dengan waktu sepanjang itu.
Tujuannya jelas, memberi kesempatan maksimal agar karya-karya batik tak hanya dilihat sekilas, tapi benar-benar dicermati dan diapresiasi.
Setiap stan menampilkan karakter unik. Ada motif tumbuhan khas hutan tropis Kalimantan, ada pula corak fauna seperti burung enggang atau ikan sungai Mahakam.
Sebagian pengrajin mencoba menggabungkan tradisi dengan sentuhan modern—warna pastel, garis geometris, hingga batik kasual yang bisa dipakai sehari-hari.
Dengan variasi itu, pengunjung tak hanya membeli kain, tetapi membawa pulang cerita. Cerita tentang tangan-tangan telaten yang mencanting malam panas, tentang kreativitas yang lahir dari sudut-sudut Balikpapan, dan tentang budaya yang hidup dalam pola selembar kain.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Balikpapan Cokorda Ratih Kusuma menegaskan, pameran batik di hotel menjadi contoh sinergi ideal antara pemerintah, swasta, dan pelaku UMKM.
“Hotel bisa menjadi ruang publik baru. Ini memperkaya pengalaman wisatawan sekaligus menumbuhkan rasa bangga pada produk lokal,” katanya.
Selain pameran, pemerintah juga menggelar lomba batik terbuka untuk masyarakat umum. Lomba ini bertujuan mendorong kreativitas sekaligus menguji profesionalisme para pengrajin.
Hasilnya diharapkan melahirkan desain-desain baru yang mampu bersaing di pasar regional maupun nasional.
“Melalui lomba, kami ingin memberi ruang ide bagi siapa pun. Dari sinilah lahir semangat berkarya yang tidak hanya menjaga tradisi, tapi juga menciptakan inovasi,” jelas Ratih.
IDENTITAS DAN EKONOMI
Pameran itu memberi pesan kuat. Batik bukan sekadar warisan. Ia adalah identitas, ekspresi budaya, sekaligus sumber ekonomi.
Dengan hotel-hotel menjadi etalase, batik mendapatkan tempat terhormat di ruang yang sering dikunjungi tamu asing maupun wisatawan domestik.
Bagi Balikpapan, kota yang dikenal sebagai Kota Minyak, acara ini menghadirkan dimensi lain.
Pariwisata tak hanya bertumpu pada kuliner atau panorama alam, tetapi juga pada kriya dan budaya. Batik menjadi pintu masuk untuk menunjukkan kekayaan Kaltim.
Anom berharap kegiatan serupa dapat menjadi agenda tahunan. Tahun depan, pihaknya berencana memperluas partisipasi dengan melibatkan lebih banyak UMKM.
Harapannya, pameran bisa lebih besar, dengan variasi produk lebih beragam, dan jangkauan pasar lebih luas.
Di balik kain yang terpajang, tersimpan kerja keras para pengrajin. Setiap motif adalah cerita panjang: tentang alam, kearifan lokal, hingga harapan generasi baru.
Dengan dukungan hotel, pemerintah, dan masyarakat, cerita itu bisa terus berlanjut.
“Insyaallah kegiatan ini akan berlanjut. Semoga batik semakin dihargai bukan hanya sebagai pakaian formal, tapi juga sebagai bagian hidup sehari-hari,” ujar Anom.
Hari Batik Nasional di Balikpapan tahun ini terasa berbeda. Pameran batik di hotel menegaskan bahwa budaya bisa hadir di ruang modern, ekonomi kreatif bisa tumbuh di ruang pariwisata, dan UMKM bisa berkembang bersama sektor swasta.
Di tengah derap pembangunan kota dan geliat bisnis energi, secarik kain batik menghadirkan sentuhan lembut: sebuah pengingat bahwa identitas budaya tetap menjadi denyut nadi Balikpapan. (rd)
Editor : Romdani.