Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Kasus DBD di Kaltim Turun Tajam, tapi Balikpapan Masih Jadi Penyumbang Tertinggi

Dina Angelina • Minggu, 12 Oktober 2025 | 10:34 WIB

Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin.
Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN
– Di tengah perubahan cuaca yang tak menentu, kabar baik datang dari sektor kesehatan Kalimantan Timur (Kaltim).

Dalam dua tahun terakhir, tren kasus demam berdarah dengue (DBD) di provinsi ini terus menurun.

Baca Juga: Baru 7,4 Persen, Balikpapan Kejar Aktivasi Identitas Digital demi Terhubung ke Semua Layanan Publik

Meski begitu, sejumlah daerah masih menjadi sorotan karena jumlah kasus yang relatif tinggi. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim menegaskan, kewaspadaan harus tetap dijaga agar angka penularan tidak kembali meningkat.

Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, mengungkapkan bahwa kasus kematian akibat DBD turun signifikan dari 45 kasus pada 2023 menjadi 11 kasus hingga September 2025.

“Beberapa daerah masih menjadi perhatian utama karena tingginya jumlah kasus,” ujarnya.

Dari data terbaru, Balikpapan menempati posisi tertinggi dengan 987 kasus, disusul Kutai Kartanegara (689 kasus), dan Samarinda (544 kasus).

Daerah lain mencatat angka yang lebih rendah: Kutai Timur (400 kasus), Bontang (287 kasus), Paser (272 kasus), Penajam Paser Utara (174 kasus), Kutai Barat (166 kasus), Berau (51 kasus), dan Mahakam Ulu (8 kasus).

Total kasus di seluruh Kaltim mencapai 3.578 kasus hingga September 2025.

Meski sebaran kasus tidak merata, kematian akibat DBD ditemukan di hampir semua kabupaten/kota.

“Ada dua kasus kematian di Kutai Barat dan Kutai Timur, sedangkan daerah lain masing-masing satu kasus,” jelas Jaya.

Ia menambahkan, kondisi geografis dan iklim tropis membuat Kaltim tetap tergolong daerah endemik DBD.

“Pola hujan yang tidak menentu menjadi kondisi ideal bagi nyamuk Aedes aegypti untuk berkembang biak,” tuturnya.

Menurutnya, sebagian besar kasus DBD ditemukan pada anak-anak usia sekolah di bawah 14 tahun.

Baca Juga: Shidiq Nur Alam Kembali Nakhodai LPM Graha Indah: Perkuat Sinergi dan Partisipasi Pembangunan

Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

"Nyamuk bisa terbang hingga 200 meter dari tempat berkembang biaknya, jadi pencegahan harus dimulai dari rumah,” tegasnya. (*)

Editor : Ery Supriyadi
#endemik #aedes aedypti #Demam berarah dengue #Jaya Mualimin #dbd