Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

MBG Baru Dirasakan 21.496 Siswa di Balikpapan, Setara 17,5 Persen

Dina Angelina • Kamis, 13 November 2025 | 13:54 WIB

 

REALISASI: Kepala Disdikbud Balikpapan Irfan Taufik mengaku rutin koordinasi demi kelancaran MBG.
REALISASI: Kepala Disdikbud Balikpapan Irfan Taufik mengaku rutin koordinasi demi kelancaran MBG.
 

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Disdikbud Balikpapan mencatat capaian realisasi program makan bergizi gratis (MBG) di Kota Minyak. Saat ini, setiap satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) melayani siswa mulai jenjang PAUD, SD, dan SMP.

Kepala Disdikbud Balikpapan Irfan Taufik mengatakan, total penerima MBG sebanyak 685 siswa dari total 15.977 siswa PAUD. Artinya persentase penerima manfaat baru sekitar 4,3 persen di jenjang PAUD.

Kemudian untuk jenjang SD yang telah menerima MBG sebanyak 12.256 siswa dari total 68.531 siswa. “Ini setara 17,8 persen siswa penerima MBG di jenjang SD,” sebutnya.

Sedangkan penerimaan manfaat MBG dari jenjang SMP sebanyak 8.555 siswa dari total 29.891 siswa atau 28,6 persen. Serta satuan pendidikan nonformal (SPNF) masih 0 persen alias tidak tersentuh MBG dengan jumlah 8.063 siswa.

Secara keseluruhan jumlah penerima manfaat MBG sudah dirasakan 21.496 siswa di Balikpapan. Sementara siswa yang belum menerima MBG sebanyak 100.966 siswa.

“Secara keseluruhan persentase penerima MBG di Balikpapan sekitar 17,5 persen,” tuturnya. Selain membentuk Satgas MBG di tingkat kota, Disdikbud juga membuat satgas di level dinas.

Pihaknya rutin melakukan rapat koordinasi untuk memastikan kelancaran program. Serta bentuk kontrol atau pengawasan. Rapat diikuti SPPG, Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, dan sarjana penggerak pembangunan Indonesia (SPPI).

Terutama mengingatkan keamanan dan kualitas makanan yang disajikan kepada siswa. Sejak penerapan MBG Februari 2025, Disdikbud mencatat tiga poin evaluasi.

Pertama saat ditemukan makanan yang sudah basi, solusinya wali kelas segera memberitahu agar makanan yang basi tidak dikonsumsi. Kedua waktu kedatangan MBG di satuan pendidikan masih tidak konsisten.

“Dampaknya turut mengganggu jam belajar,” ucapnya. Jika pengantaran MBG terlalu pagi akan berdampak pada kantin sekolah. Solusinya Disdikbud mengadakan rapat koordinasi bersama satuan pendidikan dan SPPG.

Terakhir menu MBG kurang disenangi peserta didik. “Sebagai solusi pihak sekolah memberi edukasi kepada siswa bahwa makanan yang dibagi ini merupakan menu bergizi,” tutupnya. (*)

Editor : Duito Susanto
#Makan Bergizi Gratis (MBG) #balikpapan