Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tantangan ke Depan Disdikbud Samarinda, Siapkan Satgas dan Sistem Digital

M
Penulis: M Hafiz Alfaruqi❯
Plt Kepala Disdikbud Samarinda-Ibnu Araby
Plt Kepala Disdikbud Samarinda-Ibnu Araby

Advertisement

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Dunia pendidikan di Samarinda tengah menghadapi beragam tantangan menjelang tahun ajaran baru. Mulai pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), polemik kegiatan perpisahan sekolah, hingga persoalan klasik kekurangan tenaga pendidik, menjadi pekerjaan rumah yang harus segera tuntas.

Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda Ibnu Araby menyebutkan, dalam waktu dekat fokus utama Disdikbud adalah pelaksanaan SPMB yang dijadwalkan berlangsung pada pekan ketiga Mei hingga awal Juni 2026.

"SPMB menjadi prioritas kami dalam waktu dekat. Kami sudah membentuk satgas dan terus mematangkan persiapan, termasuk sosialisasi hingga tingkat kecamatan," ujarnya usai hearing bersama Komisi IV DPRD Samarinda, Selasa (5/5).

Tahun ini sistem penerimaan siswa baru tetap dilakukan secara digital melalui aplikasi. Orang tua dapat mendaftarkan anaknya secara daring dari rumah, dengan catatan seluruh dokumen telah lengkap.

Advertisement

Namun, Disdikbud tetap menyiapkan skema khusus bagi sekolah di wilayah pinggiran yang memiliki keterbatasan akses internet. Nantinya, pihak sekolah akan membantu proses upload dokumen ke sistem. "Untuk daerah yang terkendala jaringan, akan ada pendampingan tim sekolah," jelasnya.

Di sisi lain, Ibnu juga menyoroti polemik kegiatan perpisahan sekolah yang belakangan ramai diperbincangkan. Ia menegaskan, kegiatan tersebut tidak dilarang, namun harus dilaksanakan secara sederhana dan tidak membebani orang tua siswa. "Tidak boleh ada pungutan dalam bentuk apa pun, baik melalui komite, paguyuban, maupun cara lainnya," tegasnya.

Terkait anggaran, dia mengakui adanya dampak efisiensi yang membuat kegiatan fisik mengalami pengurangan volume. Namun, perbaikan sekolah tetap difokuskan pada kebutuhan prioritas, seperti bangunan terdampak banjir, atap bocor, hingga perbaikan fasilitas belajar.

"Itu didahulukan, yang benar-benar prioritas. Misalnya sekolah yang rusak atau fasilitasnya sudah tidak layak," katanya.

Tantangan lain yang tak kalah krusial adalah kekurangan tenaga guru. Hingga akhir 2026, Samarinda diperkirakan masih kekurangan sekitar 706 guru. Kondisi itu terutama berdampak pada kebutuhan guru kelas di tingkat sekolah dasar, atau yang harus mendampingi siswa dalam waktu penuh.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Pemisahan Dinas Berkait Kebudayaan dan Pariwisata Samarinda Ditarget Rampung Akhir 2026

Pemisahan Dinas Berkait Kebudayaan dan Pariwisata Samarinda Ditarget Rampung Akhir 2026

Pemkot Samarinda menyiapkan penataan kelembagaan untuk memisahkan urusan kebudayaan dan pariwisata dalam satu perangkat daerah khusus

Disdikbud Kutim Jemput Bola ke Kementerian, Buka Jalur Bantuan Pusat untuk Pegiat Seni

Disdikbud Kutim Jemput Bola ke Kementerian, Buka Jalur Bantuan Pusat untuk Pegiat Seni

Disdikbud Kutai Timur (Kutim) mencari alternatif pembiayaan untuk menjaga keberlangsungan kegiatan seni dan kebudayaan.

Mahulu Krisis Kepala Sekolah, Disdikbud Buka Seleksi 30 Formasi hingga Turunkan Syarat Golongan

Mahulu Krisis Kepala Sekolah, Disdikbud Buka Seleksi 30 Formasi hingga Turunkan Syarat Golongan

Puluhan guru di Mahakam Ulu mengikuti seleksi bakal calon kepala sekolah (BCKS). Sebelumnya Disdikbud Mahulu meminta kelonggaran ke pusat.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer