KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Tak banyak yang tahu bahwa perjalanan panjang Dra Dwita Salverry, Psi MM sebagai psikolog dan pendamping anak-anak berkebutuhan khusus dimulai dari sebuah garasi rumahnya. Ruangan sederhana itu kini telah menjadi tonggak berdirinya Yayasan Psikologi Clarinta, tempat ratusan anak dan keluarga menemukan harapan baru.
Kisah Dwita bukan kisah yang direncanakan. Ia menyebutnya sebagai panggilan yang datang perlahan, namun tak pernah berhenti mengetuk. “Saya percaya tidak ada anak yang gagal. Kalau ada yang belum berkembang, berarti kita, orang dewasa di sekitarnya, yang belum belajar cukup,” ungkapnya.
Titik balik itu muncul saat ia membantu pelayanan di Puskesmas Damai. Di sana, ia bertemu anak-anak dari keluarga sederhana yang berjuang memahami kondisi autisme. Pertemuan itu menggerakkan hatinya.
Ia membawa mereka ke rumah, membuka pintu garasi dan memulai sesi pendampingan kecil-kecilan. Tentunya itu semua atas restu sang suami pula, Legiman SE, seorang pensiunan BUMN.
Awalnya serba kekurangan. Clarinta pernah mengalami kondisi keuangan minus selama sepuluh tahun pertama. “Cincin kawin saya pernah saya gadaikan untuk mempertahankan yayasan,” tuturnya sambil tersenyum.
Namun tekadnya semakin kuat berkat dukungan suaminya yang setia menemani bekerja hingga larut malam. “Beliau selalu bilang, selama niatnya baik, pasti ada jalan.” Benar saja, dari garasi itu Clarinta berkembang. Ia merekrut relawan, membangun tim, dan akhirnya membentuk lembaga resmi yang melayani anak-anak berkebutuhan khusus di Balikpapan.
Sebagai Ketua Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Kalimantan Timur, kiprahnya makin luas. Ia aktif memberikan edukasi tentang adiksi gawai pada anak, memberikan dukungan psikososial untuk penyintas kanker, hingga mendampingi anak-anak korban kekerasan seksual bekerja sama dengan Balai Pemasyarakatan Balikpapan.
Filosofi hidupnya sederhana namun kuat, “Allah tidak pernah salah cetak.” Ia meyakini setiap anak memiliki potensi unik yang mungkin belum terlihat. Pengalaman 33 tahun berkarir dan 15 tahun mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus menjadi bukti keyakinan itu.
Bagi Dwita, ukuran keberhasilan tidak pernah dilihat dari materi. Kini, Yayasan Clarinta berdiri sebagai simbol perjalanan panjang seorang perempuan yang memilih untuk tetap berjalan meski jalannya berliku. Dari sebuah garasi, kini lahir ruang harapan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Kekayaan paling besar itu bukan penghasilan, tapi ketika ilmu kita dipakai orang lain untuk menolong lebih banyak orang,” tuturnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo