Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Cerita Dwita Salverry Berhasil Jadi Psikolog, Ibu dan Pejuang Pendidikan Sekaligus

Ulil Mu'Awanah • Senin, 15 Desember 2025 | 06:18 WIB
PENGALAMAN: Dwita memberikan pendampingan kepada anak berkebutuhan khusus.
PENGALAMAN: Dwita memberikan pendampingan kepada anak berkebutuhan khusus.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Di balik sosoknya, Dra Dwita Salverry Psi MM, menyimpan perjalanan hidup yang berwarna. Lahir dari ayah berdarah Aceh dan ibu asal Padang, tumbuh di Malang, hingga menetap di Balikpapan selama 15 tahun, ia menyebut dirinya sebagai perpaduan yang membentuk cara pandangnya. “Saya ini Indonesia raya,” katanya sembari tersenyum.

Identitas yang kaya membuatnya peka terhadap keragaman manusia. Tidak heran ketika memilih profesi psikolog, Dwita menekuni bidangnya dengan penuh kedalaman. Bahkan warna favoritnya, ungu, menjadi representasi harmoni antara dirinya dan profesi yang ia jalani. “Ungu itu tenang, tapi kuat. Saya merasa itu sangat saya,” ujarnya.

Dalam keluarga, nilai-nilai itu terpupuk sejak kecil. Ia mengingat ibunya sebagai sosok mandiri dan aktif sosial, sedangkan ayahnya dikenal dengan hati yang lembut meski bersuara tegas. Kedua figur itu membentuknya menjadi perempuan yang menjaga keseimbangan antara ketegasan dan kasih sayang.

Sebagai ibu dari lima anak dan nenek dari tujuh cucu, Dwita menerapkan pola asuh yang menekankan usaha, bukan hasil. Ia tidak pernah menuntut ranking atau nilai sempurna. “Saya selalu bilang ke anak-anak, yang penting berusaha. Kalau gagal, tidak apa-apa, karena gagal itu bagian dari belajar,” ucapnya.

Nilai itu berbuah manis. Anak-anaknya tumbuh mandiri dan bahagia, bahkan salah satu putrinya kini mengikuti jejaknya menjadi psikolog. “Saya tidak pernah mengarahkan ke situ, jadi ketika dia memilih sendiri, saya terharu sekali,” kata Dwita.

Dalam perjalanan profesionalnya, Dwita tidak berhenti belajar. Ia membentuk tim bernama Hore, yang berisi rekan-rekan dari berbagai provinsi. Bersama tim ini, ia memperdalam ilmu autisme hingga ke luar negeri. “Dunia autisme sangat luas. Semakin saya belajar, semakin saya sadar, kita tidak boleh berhenti,” katanya.

Sebagai Ketua HIMPSI Kaltim, ia menghadapi tantangan besar. Salah satunya tingginya kasus autisme di wilayah ini yang diduga berkaitan dengan logam berat di tanah. Karena itu, ia tengah merampungkan penelitian untuk mencari metode intervensi yang paling tepat bagi anak-anak di Kalimantan Timur.

Perjalanan panjang Dwita disimpulkan dalam pesannya kepada para orang tua: perempuan harus mau belajar. “Perempuan itu madrasah pertama. Delapan puluh persen otak anak terbentuk dari ibunya. Jadi jangan hanya cari istri cantik, tapi cari yang mau belajar,” tegasnya.

Dengan segala warna hidup, nilai, keyakinan, dan dedikasi yang ia bawa, Dwita menjadi mozaik yang utuh. Sosok yang hadir bukan hanya sebagai psikolog, tetapi juga ibu, pendidik, pemimpin organisasi, dan sumber inspirasi bagi banyak keluarga di Kalimantan Timur. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Dwita Salverry #anak berkebutuhan khusus #psikolog #pejuang pendidikan #clarinta