Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Branding Digital Wisata Tanjung Gading, Inisiatif Mahasiswa ITK Perkuat Pariwisata Balikpapan

Muhammad Rizki • Minggu, 21 Desember 2025 | 22:10 WIB

kawasan Wisata Tanjung Gading, yang berlokasi di Kelurahan Karang Joang KM.12, Balikpapan Utara.
kawasan Wisata Tanjung Gading, yang berlokasi di Kelurahan Karang Joang KM.12, Balikpapan Utara.

KALTIMPOST.ID, Di tengah derasnya arus digitalisasi pariwisata, banyak destinasi lokal dengan potensi besar justru tertinggal karena keterbatasan promosi. Wisata Tanjung Gading di Kelurahan Karang Joang KM 12, Balikpapan Utara, Kalimantan Timur, adalah salah satunya.

Kawasan wisata berbasis alam dan edukasi ini menyimpan lanskap asri, fasilitas ramah keluarga, serta peluang ekonomi bagi warga sekitar. Namun, tanpa kehadiran media promosi digital yang memadai, potensi tersebut belum sepenuhnya menjangkau publik luas.

Kondisi inilah yang mendorong mahasiswa Institut Teknologi Kalimantan (ITK) yang tergabung dalam Kuliah Kerja Nyata (KKN) C4 & PMMD 2025 untuk turun tangan. Melalui program pengabdian masyarakat bertajuk Branding Eco Edu Wisata Tanjung Gading melalui Website dan Merchandise Lokal, mereka mencoba menjawab tantangan klasik pariwisata lokal: bagaimana mengenalkan destinasi secara profesional, berkelanjutan, dan berpihak pada masyarakat.

Pendekatan yang digunakan tidak sekadar membangun citra, tetapi juga membangun sistem. Salah satu langkah strategisnya adalah pengembangan website resmi Wisata Tanjung Gading yang kini dapat diakses melalui tanjunggading.id.

Website ini dirancang sebagai pusat informasi digital—memuat sejarah, fasilitas, galeri foto dan video, harga layanan, hingga tautan media sosial—dengan tampilan yang responsif dan mudah diakses. Di era ketika calon wisatawan mencari referensi hanya dengan satu sentuhan layar, kehadiran website menjadi fondasi penting bagi kredibilitas sebuah destinasi.

Namun, mahasiswa ITK menyadari bahwa website saja tidak cukup. Media sosial, khususnya TikTok, dipilih sebagai saluran promosi utama untuk menjangkau generasi muda. Akun resmi @w.tanjunggading dirancang sebagai etalase visual yang menampilkan panorama alam, aktivitas wisata, dan potensi budaya lokal dalam format singkat, dinamis, dan mengikuti tren digital.

Pilihan ini mencerminkan pemahaman bahwa promosi pariwisata hari ini bukan lagi soal brosur, melainkan soal cerita yang mampu viral dan mengundang rasa ingin tahu.

Upaya branding digital tersebut dilengkapi dengan sentuhan ekonomi kreatif melalui pembuatan merchandise lokal. Kaos, totebag, mug, tumbler, gantungan kunci, hingga lilin aromaterapi berbahan minyak jelantah dirancang dengan identitas visual khas Tanjung Gading dan unsur lokal Kalimantan Timur.

Yang menarik, proses produksi tidak dikerjakan sendiri oleh tim mahasiswa, melainkan melibatkan warga dan pelaku UMKM setempat. Di sinilah program ini melampaui sekadar promosi: ia menciptakan rantai nilai ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Kesadaran akan keberlanjutan juga tercermin dalam pelatihan digital marketing yang diberikan kepada Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan pengelola wisata. Pelatihan ini menjadi kunci agar website, media sosial, dan strategi promosi tidak berhenti ketika program KKN berakhir.

Dengan pendekatan praktis dan partisipatif, para pengelola didorong untuk mandiri mengelola konten, membaca tren, dan memanfaatkan teknologi secara berkelanjutan.

Respons mitra pun menunjukkan bahwa program ini menyentuh kebutuhan nyata. Ketua Pokdarwis sekaligus pengelola Wisata Tanjung Gading, Tamuri, mengungkapkan rasa syukur atas hadirnya program yang selama ini mereka butuhkan.

Hal senada disampaikan Purnomo, yang menilai kehadiran website, media sosial, dan produk oleh-oleh sebagai lompatan penting bagi pengelolaan wisata. Sementara itu, dosen pembimbing Winarni, S.Si., M.Si., menegaskan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat adalah bentuk solusi konkret, bukan sekadar wacana akademik.

Lebih dari sekadar program KKN, inisiatif ini menunjukkan bagaimana mahasiswa dapat berperan sebagai agen perubahan di tingkat lokal. Dengan memadukan teknologi informasi, kreativitas, dan pendekatan komunitas, mereka membantu sebuah destinasi wisata menemukan kembali suaranya di ruang digital. Bagi mahasiswa, ini adalah pembelajaran lapangan yang nyata; bagi masyarakat, ini adalah pintu menuju peluang baru.

Wisata Tanjung Gading kini tidak lagi hanya dikenal oleh warga sekitar, tetapi perlahan membuka diri pada khalayak yang lebih luas. Dan di balik upaya tersebut, tersimpan pesan penting: pembangunan daerah tidak selalu menunggu proyek besar, tetapi bisa dimulai dari kolaborasi kecil yang dikerjakan dengan visi dan keberpihakan pada masyarakat. (*/riz)

Editor : Muhammad Rizki
#wisata alam Balikpapan #balikpapan #Tanjung Gading #Karang Joang