KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Mengatasi masalah daya tampung siswa di sekolah negeri Balikpapan bukan hal mudah. Setiap tahun, jumlah anak usia SD terus meningkat, mencapai sekitar 12.000 siswa.
Begitu pula lulusan SD yang melanjutkan ke jenjang SMP. Jumlahnya hampir sama, sementara kapasitas sekolah negeri masih berkisar 6.000–7.000 siswa saja. Kepala Disdikbud Balikpapan, Irfan Taufik, menjelaskan kondisi ini termasuk siswa yang masuk ke sekolah swasta.
“Daya tampung kurang hampir 50 persen dari total kebutuhan. Itulah yang mendorong lahirnya inovasi The Dream Gazebo,” ujar Irfan.
Baca Juga: Disdikbud Balikpapan Hadirkan The Dream Gazebo, Solusi Kekurangan Kelas Sekolah
Konsep ini memungkinkan siswa dan guru belajar di ruang terbuka, atau outdoor class. Model ini diterapkan di SD 009 Balikpapan Utara dan kini menjadi prototipe bagi sekolah lain yang ingin meniru konsep serupa.
Alasan khusus memilih konsep gazebo di SD 009 adalah kondisi lahan yang tidak rata alias berbukit. “Kondisi ini tidak memungkinkan membangun ruang kelas permanen dan bertingkat,” jelas Irfan.
Padahal, setiap tahun sekolah ini kebanjiran peminat. Jumlah peserta didik hampir mencapai 1.000 siswa, dan masyarakat terus menuntut penambahan rombongan belajar (rombel). Jam belajar pun dilakukan sampai tiga shift setiap hari.
Baca Juga: Bukan Kelas Biasa, Intip Keunggulan The Dream Gazebo, Biaya Lebih Irit dan Luas
Selain itu, SD 009 Balikpapan Utara mengikuti program percepatan transformasi pembelajaran, yakni Kandidat Sekolah Rujukan Google (KSRG). Tujuannya agar semua siswa bisa belajar satu shift di pagi hari.
Pemanfaatan Chromebook diterapkan dalam konsep blended learning. Namun, pergantian jam belajar menimbulkan tantangan. Anak-anak kerap belajar di luar kelas, membuat kondisi tampak tidak tertata.
“Dari situlah muncul ide menyulap sisa lahan terbatas menjadi gazebo. Sekarang ruang terbuka itu bisa digunakan untuk belajar, sekaligus menambah kapasitas sekolah,” tutup Irfan. (*)
Editor : Ery Supriyadi