BALIKPAPAN - Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI) Balikpapan mengungkap potret layanan air minum, sanitasi, dan pengelolaan sampah (WASH) di Kelurahan Manggar Baru, Balikpapan Timur.
Berdasarkan audit sosial terhadap 103 rumah tangga di kawasan pesisir tersebut, ditemukan sebagian warga masih terbebani tingginya biaya air PDAM. Serta minimnya akses pengelolaan limbah yang memadai. Sehingga berdampak pada pencemaran lingkungan.
Sebagai informasi, KPPI tergabung dalam Koalisi Penguatan Representasi dan Inklusi Perempuan dalam Anggaran (PRIMA). Ini merupakan hasil audit sosial di kawasan pesisir. Khususnya Kelurahan Manggar Baru.
Ada empat zonasi yang masuk pemetaan dengan 103 rumah tangga. Perwakilan KPPI Balikpapan Mutmainnah mengatakan, masyarakat pesisir di Manggar Baru mengandalkan sumber air bersih 60 persen dari PDAM atau ledeng.
Namun hasil penelitian menunjukan 51 persen responden menyatakan harga air ledeng masih mahal. “Pengeluaran mereka lebih dari Rp 100.000 per bulan untuk membayar tagihan air,” katanya.
Sementara untuk sumber air dari sumur gali atau bor kurang terlindungi karena tidak ada penutup. Sehingga rentan masuk kotoran atau bahan cemaran. Sedangkan untuk kondisi sanitasi lebih aman.
Setidaknya sudah ada 86 persen rumah tangga memiliki toilet. Sebagian besar toilet berlokasi di dalam rumah atau banugnan utama. Pihaknya melihat sudah ada IPAL komunal.
Sayang minim pemeliharaan dan kerap mengalami kerusakan akibat ombak dan patahan kayu. “Pengelolaan limbah belum terkelola baik di septic tank individu, komunal, maupun, IPAL,” imbuhnya.
Bahkan yang menjadi perhatian seperti limbah masih dibuang langsung ke badan air, tanah, atau saluran drainase (selokan). Sehingga berisiko terhadap kesehatan lingkungan.
Serta untuk kondisi persampahan terpantau fasilitas persampahan yang tersedia masih minim. Akibatnya, sampah seringkali dibuang ke badan air baik sungai, laut, dan rawa.
“Ada yang dibakar, dikubur di dekat rumah, atau dibuang begitu saja di tempat tertentu di pinggir jalan,” ucapnya. Dia menyebutkan, Zona TPI dan sebagian Zona Tanjung Selor merupakan wilayah paling rentan.
“Karena dekat dengan garis pantai dan aktivitas kenelayanan,” tuturnya. Belum lagi kondisi infrakstruktur lingkungan menunjukkan saluran drainase tidak dapat mengalirkan air dengan baik.
Penyebab karena pemeliharaan drainase tidak rutin hingga menyebabkan sedimentasi, faktor kerusakan saluran, dan drainase menjadi tempat pembuangan air limbah rumah tangga. (*)
Editor : Sukri Sikki