Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Umat Tionghoa Jalani Ibadah di Malam Tahun Baru Imlek, di Tahun Kuda Api Harus Gerak Cepat

Oktavia Megaria • Rabu, 18 Februari 2026 | 07:46 WIB
IMLEK: Umat Tionghoa menjalani ibadah di Klenteng Guang De Miao Balikpapan.
IMLEK: Umat Tionghoa menjalani ibadah di Klenteng Guang De Miao Balikpapan.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Seluruh umat Tionghoa di Balikpapan menyambut Tahun Baru Imlek dengan penuh khidmat. Hal itu terlihat pada Senin (16/2) malam di Klenteng Guang De Miao Satya Dharma.

Terlihat, para jemaat yang datang menjalani ritual doa dengan seksama. Memanjatkan doa dan harapan kepada Dewa Langit, Toa Pek Kong (Dewa Pelindung), serta dewa lainnya.

Ketua Kelenteng Guang De Miao Satya Dharma Balikpapan William Chandra menjelaskan, Imlek tahun ini bertepatan dengan Shio Kuda Api.

“Kalau tahun lalu adalah Ular Api, tahun ini Kuda Api. Sama-sama melambangkan panas. Jadi di tahun ini tetap sama, kita mesti banyak sabar. Memang mudah terpicu emosi, tapi tetap sabar,” jelasnya.

Dia menambahkan, kuda sendiri melambangkan tenaga, yang memiliki gerak maju cepat. Jadi tahun ini ada kemungkinan bisnis bisa meraih peluang, namun harus gerak cepat dan tegas.

“Tapi tentunya cepat itu bukan berarti gegabah, kita memang harus mengambil keputusan dengan baik. Namun tidak berlama-lama, sehingga peluang itu bisa kita raih,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia berkata bahwa para pengurus klenteng telah melakukan pelayanan terhadap umat yang ibadah sejak tadi malam. Berlanjut pagi harinya (17/2) di hari pertama Imlek, ada pertunjukan Barongsai.

Barongsai, sambungnya, punya makna tersendiri bagi umat Tionghoa. Yakni melambangkan pergantian energi dari negatif ke positif. Yang tak hanya baru, tetapi juga penuh keberkahan.

Dalam serangkaian ibadah yang dilakukan, mereka punya kepercayaan bahwa sebelum pasang dupa, mereka pasang lilin dulu untuk memberikan terang. Setelah dupa dipasang, mereka menuang minyak yang artinya adalah kehidupan.

“Dan kemudian dilanjutkan dengan pembakaran kertas sembahyang yang kami percaya itu adalah uang emas. Kami memberikan persembahan emas kepada para Dewa-Dewi,” pungkas dia. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Klenteng Guang Demiao #ibadah #tahun baru imlek #umat Tionghoa #balikpapan