BALIKPAPAN - Duta Besar Australia untuk Indonesia Rod Brazier mengunjungi Balikpapan melihat langsung pelaksanaan program dukungan Pemerintah Australia terhadap inklusi penyandang disabilitas di Indonesia, Jumat (24/4).
Berlokasi di kantor Kelurahan Telaga Sari, Balikpapan Kota. Kegiatan diskusi ini diselenggarakan oleh Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia bersama mitra lokal Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kalimantan Timur.
Rod menyampaikan, kunjungan ini bagian dari dukungan berkelanjutan Australia melalui program Kemitraan Australia–Indonesia Menuju Masyarakat Inklusif (INKLUSI).
Pemerintah Australia mendukung program Strengthening Social Inclusion for Disability Equity and Rights (SOLIDER) yang dilakukan oleh SIGAB Indonesia. SOLIDER beroperasi di enam provinsi di Indonesia. Di antaranya Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, DI Yogyakarta, dan Kalimantan Timur.
Hasil kerja sama dengan organisasi masyarakat sipil lokal untuk mendorong ketenagakerjaan inklusif, mendukung pemulihan ekonomi, dan memperkuat partisipasi bermakna difabel dalam pengambilan keputusan.
SIGAB dan PPDI Kalimantan Timur dalam SOLIDER mendukung pembentukan Kelompok Difabel Kelurahan (KDK) di tingkat kelurahan. Kelompok-kelompok ini berperan mengadvokasi hak penyandang disabilitas, mendorong keterlibatan mereka dalam proses perencanaan pembangunan pemerintah.
Serta mendukung pengembangan kebijakan yang responsif terhadap disabilitas. Termasuk Rencana Aksi Daerah Penyandang Disabilitas (RAD-PD). Selain itu, Program SOLIDER juga berperan dalam pembentukan dan optimalisasi Unit Layanan Disabilitas Ketenagakerjaan.
Rod Brazier berdialog langsung dengan perwakilan KDK, perwakilan Pemerintah Kota Balikpapan, dan pelaksana program. Anggota komunitas berbagi pengalaman mereka dalam membentuk dan mengelola kelompok disabilitas.
Misalnya yang disampaikan Mentari dari KDK Manggar Baru. Dia merasa semenjak bergabung dengan KDK banyak mendapat ruang. Baik ikut serta dalam pelatihan hingga berperan dalam mengadvokasi akses yang setara terhadap layanan publik dan tata kelola lokal yang inklusif.
Rod menambahkan, semua mendapatkan manfaat dari terciptanya masyarakat yang inklusif. Semua orang memiliki kesempatan yang sama. "Saya sangat tertarik untuk belajar tentang praktik baik dan semangat kolaborasi untuk pemenuhan hak penyandang difabel di Balikpapan," ungkapnya.
Sementara itu, Asisten II Setdakot Balikpapan Andi Muhammad Yusri Ramli mewakili wali kota Balikpapan menuturkan apresiasi atas dukungan Program INKLUSI yang diimplementasikan oleh PPDI dan SIGAB.
Sehingga mendorong pembangunan yang inklusif bagi penyandang disabilitas dan kelompok rentan. Dia menegaskan komitmen untuk memperkuat dan memperluas kemitraan Australia–Indonesia. Serta menjadikan Balikpapan sebagai praktik baik yang dapat direplikasi.
"Program ini telah menjangkau enam kelurahan dan memberdayakan 335 penyandang disabilitas," ucapnya.
Baik melalui pendampingan peningkatan keterampilan, penguatan GEDSI, serta layanan inklusif. Salah satu capaian utama adalah terbentuknya Kelompok Difabel Kelurahan (KDK) di enam wilayah sebagai wadah partisipasi dalam perencanaan pembangunan.
Keterlibatan mereka dalam Musrenbang dari tingkat kelurahan hingga kota mencerminkan semakin terbukanya ruang advokasi yang partisipatif dan inklusif. Dukungan berkelanjutan dari Pemerintah Australia telah memungkinkan SIGAB dan mitra untuk mendorong pembangunan yang inklusif. Hingga terwujudnya hak-hak penyandang disabilitas di Kalimantan Timur.
"Kami menyambut kunjungan ini sebagai wujud nyata komitmen yang kuat dan berkelanjutan antara kedua negara," ucap Direktur SIGAB Indonesia Muh Syamsudin.
Editor : Muhammad Ridhuan