KALTIMPOST.ID-Upaya pencegahan demam berdarah dengue (DBD) terus diperkuat di Kota Balikpapan.
Salah satunya melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang dilakukan dosen dan mahasiswa Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan Kaltim di MTs Negeri 1 Balikpapan.
Kegiatan tersebut difokuskan pada sosialisasi program Satu Rumah Satu Jumantik sebagai langkah pengendalian nyamuk Aedes aegypti, penyebab utama penyebaran DBD.
Program ini menyasar kalangan pelajar dengan harapan mampu meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di lingkungan rumah dan sekolah.
Dosen Poltekkes Kemenkes Kaltim dr Nina Mardiana mengatakan, keterlibatan remaja dalam pemantauan jentik nyamuk masih sangat rendah.
Baca Juga: Judol dan Pinjol Mengancam Masa Depan Generasi
Berdasarkan studi awal yang dilakukan timnya, partisipasi anak muda dalam kegiatan pemantauan jentik mandiri baru mencapai sekitar 6 persen.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang untuk melibatkan pelajar dalam upaya pencegahan DBD secara lebih aktif.
Kelompok usia sekolah dinilai memiliki potensi besar karena mudah dikoordinasikan, responsif terhadap informasi baru, dan akrab dengan teknologi.
“Melalui program kemitraan ini kami mencoba terobosan dengan menyasar kalangan remaja sekolah. Mereka memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan dalam upaya pencegahan DBD di lingkungan masing-masing,” ujarnya.
Nina menjelaskan, kasus DBD di Kelurahan Muara Rapak pernah mengalami peningkatan signifikan.
Pada September 2023 tercatat sebanyak 98 kasus dengan angka bebas jentik sebesar 92,4 persen, masih di bawah standar nasional.
Kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kebiasaan menampung air tanpa penutup akibat keterbatasan pasokan air bersih, rendahnya penggunaan abate karena dianggap mengganggu aroma air, hingga kurangnya kepedulian terhadap barang-barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
Ia menilai masih banyak masyarakat yang menganggap penanggulangan DBD sepenuhnya menjadi tanggung jawab instansi kesehatan.
Padahal, keberhasilan pengendalian penyakit tersebut membutuhkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat.
“Dengan melatih pelajar sebagai jumantik remaja di rumah masing-masing dan menggunakan kartu pemantauan jentik secara berkala, kita dapat memutus siklus hidup nyamuk sejak fase jentik secara mandiri dan berkelanjutan,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala MTs Negeri 1 Balikpapan Ai Rohaniah mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut.
Menurutnya, edukasi kesehatan yang menyasar pelajar sangat penting karena dapat membentuk kebiasaan hidup bersih sejak dini.
Ia menegaskan pihak sekolah siap mendukung keberlanjutan program tersebut dengan mendorong siswa menjadi pelopor kesehatan lingkungan di rumah maupun sekolah.
“Kami berkomitmen memantau peran aktif siswa agar program jumantik menjadi bagian dari budaya keseharian. Harapannya, lingkungan sekolah dan rumah dapat terbebas dari ancaman DBD,” pungkasnya. (s/pms/as/rd)
Editor : Romdani.