KALTIMPOST.ID-Kebakaran melanda kawasan permukiman padat penduduk di Jalan Dahor III RT 39, Kelurahan Baru Ilir, Kecamatan Balikpapan Barat, Rabu malam (24/6).
Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 22.40 Wita itu menghanguskan tiga unit rumah dan menyebabkan puluhan warga terdampak.
Kobaran api dengan cepat membesar dan mengancam bangunan lain di sekitarnya. Warga setempat menjadi pihak pertama yang berupaya melakukan pemadaman sembari menunggu kedatangan petugas pemadam kebakaran.
Ketua RT 39 Baru Ilir Syaiful Basri mengatakan respons cepat warga membantu mencegah api menjalar lebih luas ke rumah-rumah di sekitar lokasi kejadian.
“Penanganan pertama dilakukan oleh warga sekitar sambil menunggu armada pemadam kebakaran tiba di lokasi,” ujarnya.
Petugas pemadam bersama warga akhirnya berhasil mengendalikan kobaran api sekitar satu jam kemudian. Namun situasi belum sepenuhnya aman.
Sekitar pukul 02.00 Wita, api kembali muncul dari sisa material yang masih menyimpan panas sehingga petugas harus melakukan pemadaman lanjutan untuk memastikan tidak terjadi kebakaran susulan.
Hingga Kamis (25/6), penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan pihak berwenang. Petugas juga masih melakukan pendataan terkait kerugian material yang ditimbulkan akibat peristiwa tersebut.
Anggota Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Baru Ilir sekaligus anggota Kelurahan Tangguh Bencana (Katana) Baru Ilir Bibis mengatakan berdasarkan data sementara terdapat 33 jiwa yang menjadi korban langsung kebakaran dan 12 jiwa lainnya terdampak.
Sebagian warga yang kehilangan tempat tinggal masih bertahan di sekitar lokasi untuk menjaga sisa barang yang dapat diselamatkan.
Sementara sebagian lainnya mengungsi di Aula Baiturrahmat maupun menumpang di rumah kerabat dan warga sekitar. “Hingga siang ini bantuan yang diterima korban baru berasal dari Dinas Sosial,” katanya.
Di tengah kepanikan saat api membesar, keselamatan keluarga menjadi prioritas utama bagi Djaelani, salah seorang korban yang rumahnya ludes terbakar. Saat kejadian, istrinya sedang menyusui bayi mereka ketika listrik mendadak padam.
Tak lama berselang, anaknya berteriak memberi tahu bahwa api telah muncul. Ketika memeriksa bagian loteng rumah, ia mendapati kobaran api sudah membesar dan sulit dikendalikan. “Begitu saya cek ke atas loteng, ternyata api sudah besar sekali,” kenangnya.
Dalam kondisi darurat tersebut, Djaelani memilih mengevakuasi istri dan anak-anaknya terlebih dahulu.
Hampir seluruh barang berharga, termasuk dokumen penting keluarga, tidak sempat diselamatkan. Hanya satu unit sepeda motor yang berhasil dievakuasi sebelum api melahap bangunan.
Meski kehilangan harta benda, ia bersyukur seluruh anggota keluarganya selamat. “Kepikiran menyelamatkan barang pasti ada, tapi yang paling penting anak-anak dan keluarga saya selamat,” tuturnya.
Pemerintah setempat bersama pihak terkait masih melakukan pendataan kebutuhan korban serta menyiapkan langkah penanganan lanjutan bagi warga terdampak kebakaran. (rd)
Editor : Romdani.