Catatan Rusdiansyah Aras: Ketegasan Andi Harun dan Keteladanan Politik dari Samarinda

KALTIMPOST.ID - Politik kerap menjadi arena bagi ambisi kekuasaan yang tidak mengenal batas. Ketika seorang tokoh berada di puncak popularitas, godaan terbesar biasanya adalah memperluas pengaruh, membangun dinasti politik, atau melompat ke jenjang kekuasaan yang lebih tinggi sebelum menuntaskan amanah yang sedang diemban.
Namun, dari Samarinda, ibu kota Kalimantan Timur, publik justru disuguhkan pemandangan politik yang berbeda. Sebuah sikap yang terbilang langka dan menyejukkan di tengah dinamika politik nasional saat ini.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, baru-baru ini menegaskan bahwa putranya, Andi Muhammad Afif Rayhan Harun, tidak akan maju dalam Pemilihan Wali Kota Samarinda 2030.
Pernyataan tersebut bukan sekadar jawaban atas spekulasi politik yang berkembang. Lebih dari itu, sikap tersebut menjadi pesan kuat mengenai pentingnya etika dalam kekuasaan.
Di tengah tren politik yang kerap membuka jalan bagi keluarga inti untuk melanjutkan kekuasaan, keputusan Andi Harun dapat dibaca sebagai upaya memutus mata rantai politik dinasti sejak dini.
Ada satu pernyataan yang mencerminkan cara pandangnya terhadap kekuasaan.
“Saya ini hanya kader partai. Saya juga tidak punya banyak duit. Kalau toh ada duit, saya lebih berkonsentrasi pada pendidikan anak saya,” ujarnya.
Kalimat tersebut bukan sekadar ungkapan kerendahan hati. Di baliknya tersimpan pesan moral bahwa jabatan publik tidak seharusnya diwariskan layaknya kepemilikan pribadi.
Bagi Andi Harun, investasi terbaik bagi masa depan anak adalah pendidikan, bukan jalan pintas menuju kekuasaan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




