BALIKPAPAN – Tingginya ketergantungan Kota Balikpapan terhadap pasokan pangan dari luar daerah kembali menjadi sorotan. Anggota DPRD Kalimantan Timur, Nurhadi Saputra, menilai kondisi tersebut membuat ketahanan pangan kota sangat rentan terhadap gangguan distribusi maupun perubahan cuaca di daerah pemasok.
Menurut Nurhadi, hingga saat ini berbagai kebutuhan pokok masyarakat, mulai dari beras, sayur-mayur, telur hingga daging, masih didatangkan dari luar Kalimantan Timur.
"Kota Balikpapan masih bergantung pada Pulau Jawa maupun Sulawesi," ujarnya saat dihubungi, Jumat (3/7).
Ia menjelaskan, produksi pertanian lokal belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Saat ini petani di Balikpapan umumnya hanya menghasilkan komoditas seperti bayam dan kangkung dengan jumlah yang masih terbatas.
Akibatnya, berbagai jenis sayuran tetap harus dipasok dari daerah sentra produksi seperti Malang dan Surabaya. Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas telur yang hingga kini masih didominasi pasokan dari luar daerah karena produksi peternak lokal belum mencukupi.
Baca Juga: Pemadaman Listrik Bergilir di Samarinda Meluas, DPRD Minta PLN Transparan Soal Kerusakan Pembangkit
"Karena masyarakat Balikpapan ini tipenya konsumtif, bukan produktif. Sehingga wajar saja kalau masih bergantung dari luar," katanya.
Nurhadi menilai peningkatan kapasitas produksi pangan lokal harus menjadi perhatian serius pemerintah agar ketergantungan terhadap daerah lain dapat dikurangi secara bertahap.
Selain sektor pertanian, ia juga menyoroti potensi kelautan Balikpapan yang dinilai belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, sebagai kota pesisir, Balikpapan memiliki sumber daya laut yang cukup besar untuk mendukung ketahanan pangan.
"Kita tinggal di wilayah pesisir, tetapi jumlah nelayan Balikpapan terus menurun setiap tahun. Padahal potensi laut kita sebenarnya sangat besar," ujarnya.
Politikus PPP itu juga menyoroti kebijakan pemerintah pusat yang mengambil alih sebagian kewenangan di sektor pertanian. Menurutnya, kondisi tersebut membuat anggota legislatif di daerah memiliki keterbatasan dalam memperjuangkan bantuan bagi petani.
Ia mengatakan sejumlah anggota DPRD dari daerah pemilihan Kutai Kartanegara, Kutai Timur, hingga Penajam Paser Utara juga menyampaikan keluhan serupa karena tidak lagi memiliki keleluasaan mengusulkan bantuan berupa pupuk, benih, maupun bibit.
"Padahal kami ingin membantu meningkatkan kesejahteraan petani agar Balikpapan tidak terus bergantung pada hasil pertanian dari Pulau Jawa maupun Sulawesi," pungkasnya.
Editor : Muhammad Ridhuan