Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Doa Bersama Umat Kristiani di Balikpapan Bukan Hanya Kebutuhan Pribadi, Ada Semangat Kebangsaan

M Ibrahim • Sabtu, 4 Juli 2026 | 21:49 WIB
Ketua Panitia Hari Doa Nasional 2026 Fani Adrianto Jossy Kusumo. 
Ketua Panitia Hari Doa Nasional 2026 Fani Adrianto Jossy Kusumo. 

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Hari Doa Nasional digelar di Dome Balikpapan. Kegiatan ini lahir dari inisiatif Forum Umat Kristiani Indonesia (FUKRI).

FUKRI menghimpun delapan aras gereja nasional. Gerakan tersebut bertujuan membangun kesadaran bahwa doa tidak hanya menjadi kebutuhan pribadi, tetapi juga merupakan kontribusi spiritual bagi bangsa dan negara.

“Lokasi penyelenggaraan selalu berpindah setiap tahun sebagai simbol bahwa semangat persatuan harus menjangkau seluruh wilayah Indonesia,” terang Ketua Panitia Hari Doa Nasional 2026, Fani Adrianto Jossy Kusumo.

Baca Juga: Ribuan Umat Doakan Indonesia di BSCC Dome Balikpapan, Ini Harapannya

Perempuan yang dikenal ramah dan murah senyum itu menjelaskan, Kaltim dipilih karena di sinilah sedang dibangun IKN. 

“Kami ingin mengajak seluruh peserta mendoakan pembangunan IKN, pemerintah, dan Indonesia agar terus diberkati Tuhan,” ucapnya.

Ada 525 peserta tercatat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan Hari Doa Nasional. Mereka datang dari hampir seluruh provinsi di Indonesia, dari Papua, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Sumatera, Jawa, hingga Kalimantan. 

Sejumlah peserta internasional juga hadir dari Korea Selatan, Selandia Baru, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Amerika Serikat.

Baca Juga: Kawal Bankeu 2025, Gubernur Kaltim dan Bupati Kutai Barat Tinjau Proyek Jalan Poros Asa–Juaq Asa

Jumlah peserta pembukaan bahkan jauh lebih besar karena ribuan jemaat dari berbagai gereja di Kalimantan Timur turut memenuhi Gedung Dome Balikpapan.

“Kami bersyukur begitu banyak masyarakat yang memiliki hati untuk bersama-sama mendoakan Indonesia,” kata istri Wakil Kapolda Kaltim, Brigjen Pol Adrianto Jossy Kusumo ini.

Untuk pertama kalinya, seluruh Opening Ceremony disiarkan secara langsung melalui YouTube sehingga masyarakat dari berbagai daerah maupun luar negeri dapat mengikuti acara tanpa harus hadir di Balikpapan.

Panitia juga menyediakan layanan juru bahasa isyarat selama acara berlangsung. Langkah tersebut menjadi yang pertama dalam sejarah penyelenggaraan Hari Doa Nasional sebagai bentuk komitmen menghadirkan perayaan yang inklusif bagi penyandang disabilitas rungu.

“Kami ingin semua orang dapat menikmati dan memahami setiap rangkaian acara. Pesan kasih dan doa tidak boleh dibatasi oleh keadaan fisik,” jelasnya.

Kemegahan pembukaan semakin terasa melalui perpaduan ibadah, seni, dan budaya yang dikemas secara profesional. Lagu-lagu pujian yang dibawakan para pelayan musik mengajak ribuan peserta larut dalam suasana penyembahan.

Baca Juga: Gubernur Kaltim Kunjungi Kubar: Kalau Ibu-Ibu Melahirkan Sekarang Lebih Memilih ke Rumah Sakit karena Akses Jalannya Sudah Terbangun

Acara juga dimeriahkan oleh penampilan penyanyi rohani nasional Sari Simorangkir dan Andi Ambarita, yang membawakan lagu-lagu bertema kasih, pengharapan, dan persatuan.

Momen yang paling mengharukan hadir ketika penyanyi rohani Grezya Ephipani tampil memainkan piano sambil menyanyikan lagu pujian. 

Meski memiliki keterbatasan penglihatan sejak kecil, penampilannya berhasil memukau ribuan hadirin dan mendapat sambutan tepuk tangan panjang.

Suasana semakin semarak dengan penampilan Korea World Choir, PSRP Choir sebagai Juara I Nasional Pesparawi, serta Paduan Suara PSDP kategori dewasa yang membawakan pujian dengan kualitas vokal yang memukau.

Baca Juga: Wilujeng Sumping! Persib Bandung Resmi Boyong Ragnar Oratmangoen, Kontrak hingga 2029

Nuansa kebangsaan semakin kuat melalui pertunjukan Tari Selamat Datang, Tari Nusantara, hingga Wonderland Indonesia yang memadukan kostum tradisional, tata cahaya modern, multimedia, serta koreografi dinamis sebagai simbol keberagaman Indonesia.

Salah satu penampilan yang paling membekas adalah pertunjukan Sand Art oleh seniman Ronald. 

Melalui lukisan pasir yang dipadukan dengan narasi dan musik, ia menggambarkan perjalanan lahirnya Forum Umat Kristiani Indonesia hingga berkembangnya Hari Doa Nasional sebagai gerakan doa bagi bangsa. 

Setiap karya yang terbentuk menghadirkan kisah yang menyentuh dan beberapa kali membuat seluruh Gedung Dome hening sebelum akhirnya bergemuruh oleh tepuk tangan.

Rangkaian Hari Doa Nasional 2026 berlanjut pada 3–4 Juli melalui seminar nasional di Bukit Doa Nusantara Balikpapan yang menghadirkan sejumlah pembicara nasional. Selanjutnya, kegiatan akan ditutup pada 5 Juli di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Pihaknya berharap, semakin banyak masyarakat yang memiliki hati untuk mendoakan Indonesia. 

Meski berbeda suku, budaya, maupun latar belakang, tetapi memiliki satu tanah air yang harus dijaga bersama. 

Baca Juga: Menag Nasaruddin Umar Kunjungi Ponpes Assalam di Kubar, Disambut Gubernur Kaltim dan Bupati Frederick Edwin

“Dari Kalimantan Timur kami mengajak seluruh anak bangsa terus mendoakan Indonesia agar tetap damai, bersatu, dan diberkati Tuhan,” harap Fani.

Diketahui, FKRI merupakan wadah yang menghimpun delapan organisasi gereja aras nasional di Indonesia, yaitu Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI), Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII), Persekutuan Baptis Indonesia (PBI), Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, Gereja Bala Keselamatan, serta Gereja Ortodoks Indonesia. (*) 

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#hari doa nasional #forum umat kristiani Indonesia #doa bersama di dome balikpapan #pembangunan ikn