KALTIMPOST.ID-Aroma kopi yang mengepul dari cangkir-cangkir di Kedai Kopi Nam Min, Balikpapan seakan membawa pengunjung kembali ke masa ketika secangkir kopi diracik dengan kesabaran, tanpa bantuan mesin modern.
Di tengah menjamurnya kedai kopi kekinian dengan beragam metode seduh dan peralatan canggih, Nam Min memilih tetap berjalan di jalurnya sendiri.
Selama hampir tujuh dekade, kedai ini mempertahankan cara lama yang menjadi identitasnya sejak pertama kali berdiri pada 1958.
Kesederhanaan justru menjadi kekuatan utama Nam Min. Tidak ada suara mesin espresso yang mendominasi ruangan.
Seluruh kopi masih diseduh secara manual, mempertahankan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Manager sekaligus owner Cabang Nam Min Balikpapan Regency, Herman, mengatakan cabang di kawasan Balikpapan Regency merupakan cabang ketujuh sekaligus yang terbaru dalam jaringan Nam Min.
Cabang tersebut telah beroperasi sekitar dua tahun terakhir dengan tetap membawa konsep yang sama seperti cabang-cabang sebelumnya. “Ini cabang yang ke-7, yang terakhir. Sekitar dua tahun terakhir ini,” ujarnya saat ditemui, Minggu (5/7).
Bagi Herman, mempertahankan metode manual bukan sekadar menjaga tradisi, tetapi juga mempertahankan karakter rasa yang selama puluhan tahun dikenal pelanggan.
Di setiap cabang, seluruh kopi tetap diracik menggunakan teknik penyeduhan tradisional. “Manual semuanya, tradisional,” katanya.
Komitmen itu juga diterapkan pada menu pendamping. Roti dan selai yang disajikan dibuat tanpa bahan pengawet. Konsekuensinya, masa simpan produk menjadi lebih singkat.
Roti akan mengeras apabila dibiarkan semalaman, sementara selai tidak dapat bertahan lama jika dibawa ke luar kota.
Namun, bagi Nam Min, kesegaran bahan menjadi bagian dari kualitas yang tidak ingin dikorbankan.
Baca Juga: Ketua DPRD Mahulu Minta KONI Perkuat Koordinasi, Pastikan Anggaran Pembinaan Atlet Masuk APBD 2027
Di balik kesederhanaan itu, terdapat tantangan yang tidak ringan. Herman mengakui menjaga konsistensi rasa dengan metode manual jauh lebih sulit dibanding menggunakan mesin.
Karena itu, para peracik kopi harus melewati proses berulang hingga terbiasa menghasilkan cita rasa yang sama pada setiap seduhan.
“Kalau pakai mesin tentu lebih konsisten. Tapi karena yang meracik orang yang sama dan terus mengulang prosesnya, lama-kelamaan mereka terbiasa sehingga rasanya tetap terjaga,” ucapnya.
Kualitas kopi juga dijaga sejak proses awal. Nam Min masih melakukan roasting sendiri terhadap biji kopi yang diperoleh dari pemasok lokal Balikpapan.
Jika pasokan lokal berkurang, kebutuhan dilengkapi dengan biji kopi dari luar daerah tanpa mengubah komposisi racikan yang telah menjadi ciri khasnya.
“Kami roasting sendiri. Ada yang bawa biji kopi, lalu kami yang menyangrai. Mayoritas dari Balikpapan, ada campuran dari luar, tetapi tidak banyak,” ujar Herman.
Setiap pagi, terutama pada hari kerja, suasana Cabang Balikpapan Regency selalu ramai. Lokasinya yang berada di kawasan perkantoran membuat banyak pekerja memilih memulai hari dengan secangkir kopi dan roti hangat di kedai tersebut. “Kalau Senin sampai Jumat, pagi itu penuh. Memang paling ramai saat jam sarapan,” ungkapnya.
Menjamurnya kedai kopi modern di Balikpapan diakui turut memengaruhi persaingan usaha. Namun Herman melihat fenomena itu juga menunjukkan budaya menikmati kopi terus berkembang.
Di tengah perubahan tren, Nam Min memilih tidak mengikuti arus. Selama 68 tahun, kedai ini tetap percaya bahwa secangkir kopi yang diracik dengan tangan, kesabaran, dan resep lama akan selalu menemukan penikmatnya. (rd)
Editor : Romdani.