BALIKPAPAN-Deretan kendaraan masih memenuhi jalur pengisian pertalite di SPBU Stal Kuda, tepat di depan Markas Brimob Balikpapan. Namun, ada yang berbeda dibanding beberapa pekan sebelumnya.
Petugas kini lebih cermat memerhatikan setiap kendaraan yang masuk ke antrean. Tatapan mereka bukan hanya tertuju pada proses pengisian bahan bakar, tetapi juga pada kendaraan yang terlihat berulang kali kembali mengantre.
Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah praktik pengetapan atau pembelian berulang yang diduga bertujuan menjual kembali bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
Di tengah meningkatnya permintaan pertalite setelah kenaikan harga pertamax, pengawasan diperketat agar distribusi bahan bakar tetap lebih tepat sasaran.
Murjani, pengawas SPBU Stal Kuda mengatakan kebijakan tersebut sebenarnya bukan hal baru. Aturan serupa telah lama diterapkan, tetapi kembali diperkuat karena jumlah pembeli pertalite meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
“Aturan ini sebenarnya sudah lama, tetapi kami jalankan lagi karena sejak harga pertamax naik, pembeli pertalite semakin banyak. Dari situ muncul pembeli yang bolak-balik, sehingga pembeli umum bisa terganggu,” ujarnya, Kamis (9/7).
Menurutnya, petugas tidak serta-merta menganggap setiap pembeli sebagai pengetap. Tidak ada ciri khusus yang dapat membedakan masyarakat yang membeli BBM untuk kebutuhan pribadi dengan mereka yang diduga membeli untuk diperjualbelikan kembali.
Karena itu, pengawasan dilakukan melalui pola antrean. Kendaraan yang terlihat kembali mengisi pertalite dalam waktu berdekatan menjadi perhatian petugas.
Nomor polisi kendaraan tersebut dicatat sebagai bagian dari upaya pengawasan agar tidak terjadi pembelian berulang yang berpotensi mengurangi hak masyarakat lain.
“Kami lebih mementingkan pembeli umum. Karena itu, kendaraan yang terlihat bolak-balik kami catat. Bukan untuk menghafal, karena jumlah kendaraan setiap hari sangat banyak,” katanya.
Jika ditemukan kendaraan yang baru saja mengisi lalu kembali masuk antrean, petugas akan meminta penjelasan. Bila terindikasi membeli BBM untuk dijual kembali, kendaraan tersebut diminta meninggalkan antrean.
“Kalau ada yang terlihat mengisi lalu kembali lagi, saya tanya. Kalau memang untuk dijual lagi, saya keluarkan dari antrean. Mereka biasanya tidak protes,” ungkapnya.
Menurutnya, penerapan pengawasan mulai memberikan dampak positif. Antrean yang sebelumnya kerap mengular hingga keluar area SPBU kini berangsur lebih tertib. Meski demikian, kepadatan tetap terjadi pada jam-jam sibuk ketika masyarakat berangkat maupun pulang bekerja.
“Biasanya antrean sampai keluar, sekarang tidak sepanjang sebelumnya. Tetapi kalau jam berangkat kerja dan pulang kerja memang tetap ramai. Hampir semua SPBU seperti itu,” jelasnya.
Bagi para pengguna pertalite, perubahan tersebut menghadirkan rasa lega. Kesempatan memperoleh BBM bersubsidi dinilai lebih merata karena antrean tidak lagi didominasi kendaraan yang berulang kali mengisi.
Murjani mengatakan banyak pelanggan memberikan respons positif dan berharap langkah serupa diterapkan di SPBU lain.
“Pembeli merasa senang dan berharap SPBU lain juga mengetatkan soal pengetap ini,” ungkapnya.
Di tengah tingginya kebutuhan masyarakat terhadap BBM bersubsidi, pengawasan sederhana seperti mencatat kendaraan yang bolak-balik mengantre menjadi upaya menjaga distribusi tetap adil.
Harapannya, pertalite benar-benar dinikmati oleh masyarakat yang berhak, sementara antrean di SPBU tetap tertib dan pelayanan kepada konsumen dapat berjalan lebih baik. (rd)
Editor : Romdani.