Antrean Pertalite di Balikpapan Bebani Driver Ojol, Pendapatan Turun karena Terpaksa Matikan Aplikasi

Muhammad Taufik • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 07:09 WIB
Ojol mengantre BBM bersubsidi di SPBU di Balikpapan. (FOTO M TAUFIK/KP)
Ojol mengantre BBM bersubsidi di SPBU di Balikpapan. (FOTO M TAUFIK/KP)

KALTIMPOST.ID-Antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di Balikpapan tidak hanya mengurangi kenyamanan pengguna kendaraan pribadi, tetapi juga berdampak langsung terhadap pendapatan pengemudi ojek online (ojol).

Waktu yang seharusnya digunakan untuk mencari penumpang kini habis di jalur antrean demi mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis pertalite.

Kondisi tersebut dirasakan Wawan, salah seorang pengemudi Maxim yang rutin mengisi BBM di SPBU Kilometer 4 Balikpapan.

Menurutnya, antrean pertalite hampir terjadi sepanjang hari. Pada kondisi normal, waktu tunggu berkisar 40 hingga 45 menit.

Baca Juga: Anggota DPRD KaltimMinta Pemberdayaan Pemuda Masuk RPJMD dan RPJPD Kaltim untuk Dukung Pembangunan Daerah

Namun, ketika antrean mengular hingga ke luar area SPBU, waktu yang dibutuhkan bisa mencapai satu jam.

“Kalau sudah sampai luar, bisa satu jam. Di sini penuh terus, pagi sampai sore tetap ramai,” ujarnya saat ditemui di SPBU Kilometer 4, Minggu (19/7).

Wawan mengaku sebelumnya lebih memilih menggunakan Pertamax karena proses pengisian lebih cepat tanpa harus mengantre panjang.

Namun, setelah harga pertamax naik dari kisaran Rp 12 ribuan menjadi sekitar Rp 16 ribu per liter, ia beralih menggunakan pertalite seperti mayoritas pengendara lainnya.

Menurutnya, perpindahan konsumen dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi menjadi salah satu penyebab antrean pertalite semakin panjang dalam beberapa waktu terakhir.

“Sebelumnya saya pakai pertamax. Setelah naik, ya pindah ke pertalite. Akhirnya antreannya jadi lebih panjang lagi,” katanya.

Baca Juga: Empat Titik Nobar Final Piala Dunia 2026 di Bontang, Pemkot hingga Kelurahan Loktuan Siapkan Hiburan untuk Warga

Lamanya waktu mengantre membuat pengemudi ojol kehilangan kesempatan memperoleh pesanan. 

Selama berada di antrean, aplikasi terpaksa dimatikan agar tidak menerima order yang sulit dipenuhi tepat waktu.

Langkah tersebut dilakukan untuk menghindari pembatalan pesanan maupun penilaian buruk dari pelanggan.

“Mau enggak mau aplikasinya dimatikan. Nanti kalau sudah dekat pengisian baru dihidupkan lagi. Kalau dapat penumpang saat masih antre, kasihan orang menunggu, pasti dibatalkan,” ungkapnya.

Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian khusus kepada pengemudi ojol yang setiap hari bergantung pada kendaraan bermotor untuk mencari nafkah.

Salah satu usulan yang disampaikannya adalah penyediaan kuota cadangan pertalite bagi pengemudi ojol agar mereka tidak harus mengantre setiap hari.

“Kalau bisa ojol diberi cadangan minimal dua liter. Jadi besoknya enggak perlu antre lagi. Kita ini kerja di jalan, waktu habis buat antre juga,” tuturnya.

Baca Juga: Perbasasi Balikpapan Gencar Sosialisasi Baseball dan Softball ke Sekolah, Siapkan Atlet Muda untuk Porprov Kaltim 2026

Selain mengantre di SPBU, sebagian pengemudi disebut memilih membeli Pertalite secara eceran ketika tidak memiliki cukup waktu untuk menunggu giliran. Namun, harga BBM eceran jauh lebih tinggi dibanding harga resmi.

Menurut Wawan, satu botol pertalite dijual hingga Rp 22 ribu. Sedangkan yang dibanderol Rp 20 ribu biasanya lebih cepat habis karena banyak diburu pengendara yang mengejar waktu.

Di tengah persoalan antrean BBM, pengemudi ojol juga menghadapi meningkatnya jumlah mitra pengemudi yang membuat persaingan memperoleh penumpang semakin ketat.

Wawan menyebut, jika sebelumnya pendapatan bersih harian bisa mencapai Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu, kini rata-rata hanya sekitar Rp 150 ribu meski bekerja seharian penuh.

“Dulu bisa Rp 200 ribu sampai Rp 250 ribu sehari. Sekarang sekitar Rp 150 ribu bersih kalau benar-benar kerja penuh. Driver makin banyak, jadi order terbagi-bagi,” ujarnya.

Ia mengatakan pengemudi kini dituntut lebih jeli memilih lokasi mangkal dengan berpindah ke kawasan yang memiliki potensi permintaan lebih tinggi agar peluang mendapatkan penumpang tetap terjaga di tengah persaingan yang semakin ketat. (rd)

Editor : Romdani.
spbu 24 jam bahan bakar minyak (bbm) ojek online Pertalite langka antre bbm