RSKD Balikpapan Latih Nakes Tingkatkan Deteksi Dini Kegawatdaruratan Ibu dan Bayi

Ainur Rofiah • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 20:14 WIB
PRAKTIK: Sesi praktik Workshop Deteksi Dini Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal di Fasilitas Pelayanan Primer yang diikuti 70 nakes RSKD Balikpapan. (AINUR/KP)
PRAKTIK: Sesi praktik Workshop Deteksi Dini Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal di Fasilitas Pelayanan Primer yang diikuti 70 nakes RSKD Balikpapan. (AINUR/KP)

BALIKPAPAN – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) Balikpapan terus meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan (nakes) dalam menangani kasus kegawatdaruratan ibu dan bayi. Upaya tersebut diwujudkan melalui Workshop Deteksi Dini Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal di Fasilitas Pelayanan Primer yang digelar di Aula Sakura RSKD pada 25–26 Juli 2026.

Sebanyak 70 tenaga kesehatan dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan (faskes) dan internal RSKD mengikuti pelatihan tersebut. Workshop difokuskan pada peningkatan kemampuan peserta dalam mengenali tanda-tanda kegawatdaruratan pada ibu hamil, ibu bersalin, dan bayi baru lahir, sekaligus memperkuat koordinasi tim dalam penanganan kasus kritis.

Wakil Direktur SDM, Pendidikan, Pelatihan, dan Penelitian RSKD Balikpapan, Novita Retno Damayanti, menegaskan keselamatan pasien harus menjadi prioritas utama dalam setiap pelayanan kesehatan.

Menurutnya, kecepatan dan ketepatan tenaga kesehatan dalam merespons kondisi darurat, seperti henti napas maupun henti jantung, sangat menentukan keberhasilan penyelamatan pasien.

Baca Juga: Drg Ahmad Jais, yang Kini Definitif Menjadi Direktur RSKD, Siap Maksimalkan Fasilitas Modern dengan Memperkuat Layanan Jantung Rujukan Kaltim

"Sebagai garda terdepan, kita memahami bahwa keselamatan pasien merupakan prioritas utama. Kecepatan dan ketepatan respons dalam menghadapi kondisi henti napas maupun henti jantung menjadi penentu utama apakah pasien dapat diselamatkan atau tidak," ujarnya saat membuka kegiatan.

Novita menjelaskan pelatihan tidak hanya memperbarui pengetahuan peserta mengenai Basic Life Support (BLS) dan Advanced Life Support (ALS), tetapi juga menekankan pentingnya kerja sama tim dalam menangani pasien gawat darurat.

"Penanganan pasien tidak hanya bergantung pada kemampuan individu, tetapi juga koordinasi yang efektif antarpetugas kesehatan," katanya.

Ia berharap seluruh peserta aktif mengikuti sesi praktik sehingga keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan secara optimal saat menghadapi kondisi darurat di fasilitas kesehatan masing-masing.

Sebagai lembaga pelatihan tenaga kesehatan yang telah terverifikasi Kementerian Kesehatan, RSKD berkomitmen terus menghadirkan program peningkatan kompetensi bagi tenaga kesehatan di Kalimantan Timur.

Dalam waktu dekat, rumah sakit juga dijadwalkan kembali menggelar workshop serupa pada 29 Juli, kemudian dilanjutkan dengan berbagai pelatihan lainnya sepanjang Agustus hingga September 2026.

Novita menegaskan peningkatan kompetensi sumber daya manusia kesehatan tetap menjadi prioritas meski pemerintah tengah menerapkan kebijakan efisiensi anggaran.

"Di tengah kebijakan efisiensi anggaran, peningkatan kompetensi nakes tetap harus menjadi prioritas. Efisiensi anggaran tidak berarti menghambat peningkatan kompetensi," tegasnya.

Seluruh materi dalam workshop disampaikan oleh dokter spesialis RSKD yang berasal dari bidang anestesi, kesehatan anak, serta obstetri dan ginekologi. Pelatihan ini juga menjadi bagian dari standar kompetensi tenaga kesehatan yang wajib diperbarui setiap dua tahun. Peserta yang belum memenuhi standar kelulusan diwajibkan mengikuti pelatihan ulang hingga dinyatakan kompeten.

 

Editor : Muhammad Ridhuan
kegawatdaruratan maternal neonatal pelatihan tenaga kesehatan workshop RSKD kesehatan ibu dan bayi RSKD Balikpapan