KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Sebuah foto lama di rumah warga bisa jadi bukan sekadar kenangan keluarga. Bisa jadi, di dalamnya tersimpan potongan sejarah sebuah kota.
Pandangan itulah yang mendorong Iim Rahman menggagas Komunitas Kawan Arsip, sebuah gerakan yang mengajak masyarakat Balikpapan menyadari pentingnya menjaga arsip, mulai dari dokumen pribadi hingga jejak sejarah daerah.
Bagi Iim, arsip bukan tumpukan kertas yang tersimpan di lemari. Arsip adalah rekaman perjalanan hidup dan identitas sebuah kota. "Orang sering menganggap remeh arsip. Padahal arsip itu penting. Banyak persoalan bisa selesai karena ada arsip yang bisa ditelusuri," ujar Iim.
Sebagai anggota Komisi IV DPRD Balikpapan yang bermitra dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Iim melihat persoalan arsip dan literasi masih belum mendapatkan perhatian yang cukup besar. Menurutnya, wajah sebuah kota tidak hanya terlihat dari pembangunan fisik, tetapi juga dari bagaimana masyarakat menjaga pengetahuan dan sejarahnya.
Baca Juga: Dari Wedang Jahe hingga Teh Semangka, Menu Minuman Bertema Kemerdekaan Hadir di Yello Hotel
"Wajah sebuah kota itu bisa dilihat dari perpustakaan dan arsipnya. Orang datang ke suatu kota juga bisa melihat tingkat kecerdasan masyarakatnya dari sana," katanya.
Karena itu, Iim mendorong agar perpustakaan tidak lagi dipandang sebagai tempat yang hanya berisi rak buku. Menurutnya, perpustakaan harus hadir dengan koleksi yang relevan dan mengikuti kebutuhan masyarakat. "Saya ingin perpustakaan itu minimal seperti Gramedia. Bedanya, kalau di Gramedia kita membeli buku, di perpustakaan semuanya bisa diakses gratis," ujarnya.
Gerakan Kawan Arsip kemudian dimulai dari hal paling dekat, yakni arsip pribadi. Sasaran awalnya adalah pelajar tingkat SMA. Iim ingin generasi muda memahami bahwa dokumen seperti kartu keluarga, ijazah, akta kelahiran, hingga identitas pribadi memiliki nilai penting yang harus dijaga.
Bukan hanya menyimpan dokumen fisik, masyarakat juga didorong membuat salinan digital sebagai langkah perlindungan apabila terjadi kerusakan akibat banjir, kebakaran, atau bencana lainnya. "Kita mulai dari arsip pribadi dulu. Fisiknya tetap disimpan, tapi juga dibuat arsip digital. Kalau suatu saat hilang atau rusak, datanya masih ada," jelasnya.
Baca Juga: Gaji Pensiunan PNS Cair Lagi di Bulan Agustus, Cek Nominal yang Masuk Rekening!
Dari arsip pribadi, Iim berharap kesadaran itu berkembang menjadi budaya menjaga arsip keluarga hingga arsip sejarah kota. Ia mencontohkan ketika menemukan sebuah foto lama milik seorang warga yang memperlihatkan sang kakek bersama Presiden pertama RI Soekarno saat kunjungan awal ke Balikpapan.
Menurutnya, foto tersebut bukan hanya milik keluarga, tetapi memiliki nilai sejarah bagi kota. "Itu arsip yang sangat berharga. Kalau tidak diselamatkan, sepotong sejarah kota bisa hilang," tuturnya.
Terlebih, Balikpapan kini memiliki posisi strategis sebagai kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN). Perubahan besar yang terjadi membuat dokumentasi perjalanan kota menjadi semakin penting. "Kalau arsip sebelum pembangunan itu tidak kita simpan, nanti akan ada bagian sejarah yang hilang," katanya.
Ke depan, Iim berharap Balikpapan memiliki sistem kearsipan yang kuat, museum, serta ruang kreatif yang mampu menampung perjalanan sejarah dan budaya kota. Sebab baginya, pembangunan bukan hanya tentang gedung dan infrastruktur. Para seniman, pekerja budaya, dan masyarakat yang memiliki cerita juga menjadi bagian dari identitas Balikpapan.
Melalui Kawan Arsip, Iim ingin budaya menjaga sejarah dimulai dari rumah, masuk ke sekolah, lalu tumbuh menjadi kesadaran bersama. "Arsip itu bukan sekadar kertas, tetapi jejak hidup seseorang," ujarnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo