BMKG Ingatkan Risiko Heatstroke saat Cuaca Panas, Kenali Gejala dan Pertolongan Pertama

KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Kondisi musim kemarau bukan hanya meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan. Cuaca panas juga dapat memicu gangguan kesehatan serius, salah satunya heatstroke atau sengatan panas.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai dampak musim kemarau.
Selain heatstroke, minimnya curah hujan dapat memperburuk kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan seperti ISPA.
Ancaman penyakit lain seperti demam berdarah dengue (DBD) dan malaria juga perlu diantisipasi melalui pemantauan serta respons kesehatan yang cepat.
BMKG sebelumnya terus melakukan koordinasi lintas sektor untuk menghadapi dampak kekeringan. Sektor pertanian, sumber daya air, energi hingga kehutanan menjadi sejumlah bidang yang perlu melakukan langkah mitigasi.
Petani, misalnya, disarankan menyesuaikan waktu tanam dengan kondisi musim serta mempertimbangkan penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekurangan air.
Sementara pengelola sumber daya air perlu memperhitungkan ketersediaan air baku. Kondisi debit air juga menjadi perhatian sektor energi karena dapat memengaruhi produksi pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat diminta tidak mengabaikan dampak suhu panas terhadap tubuh.
Heatstroke Termasuk Kondisi Darurat
Heatstroke terjadi ketika tubuh mengalami peningkatan suhu secara ekstrem dan tidak mampu lagi mengendalikan temperaturnya secara normal.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




