KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan potensi hujan di Kalimantan Timur relatif minim pada Jumat (7/8). Kondisi tersebut dipengaruhi dominasi angin kencang yang bertiup dari arah selatan hingga barat daya menuju utara dengan kecepatan mencapai 20 knot.
Prakirawan BMKG Balikpapan, Fryska Abay, menjelaskan aliran angin yang relatif kencang dan searah membuat pembentukan awan hujan terhambat karena massa udara bergerak terlalu cepat.
“Aliran angin yang relatif kencang dan searah mengakibatkan pembentukan awan hujan terhambat karena massa udara bergerak terlalu cepat. Sehingga potensi timbulnya hujan di wilayah Kalimantan Timur menjadi relatif minim,” ujar Fryska.
Baca Juga: Saksi Pokja Bantah Aliran Dana ke Eks Kadinkes dalam Sidang Dugaan Korupsi RS Bekokong
Pada pagi hari, cuaca di Kaltim secara umum diprakirakan cerah hingga cerah berawan. Sementara itu, Kabupaten Mahakam Ulu berpotensi diselimuti kabut. Memasuki siang hari, cuaca didominasi berawan hingga berawan tebal, sebelum kembali cerah berawan pada malam hingga dini hari.
Selain minimnya potensi hujan, BMKG juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Selama sepekan ke depan, tingkat kemudahan terjadinya kebakaran di hampir seluruh wilayah Kaltim berada pada kategori mudah hingga sangat mudah terbakar.
Di sektor maritim, tinggi gelombang di perairan Kalimantan Timur secara umum berada pada kategori rendah hingga sedang. Meski demikian, warga pesisir dan nelayan diminta tetap waspada terhadap potensi gelombang sedang dengan ketinggian mencapai 1,5 meter.
“Harap tetap waspada bagi warga pesisir dan nelayan karena ada potensi gelombang sedang setinggi 1,5 meter, terutama di perairan Paser, Penajam Paser Utara, Balikpapan, Kutai Kartanegara, dan Bontang,” imbau Fryska.
Baca Juga: Inflasi Medis Terus Naik, Sun Life Indonesia Ajak Pengusaha Siapkan Perlindungan
BMKG juga mengingatkan bahwa Kalimantan Timur saat ini telah memasuki musim kemarau yang ditandai dengan meningkatnya jumlah titik panas (hotspot). Masyarakat diimbau tidak membakar sampah maupun melakukan aktivitas lain yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan. (*)
Editor : Ery Supriyadi