KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Di balik diskusi yang berlangsung hangat dalam forum KIARA (Kelas Inspirasi Antar Penggerak), ada target yang ingin dicapai lebih dari sekadar berbagi gagasan.
Seluruh ide yang lahir dari para peserta akan diramu menjadi rencana aksi bersama yang diharapkan mampu memperkuat kebijakan daerah dalam mendukung tumbuh kembang anak usia dini.
Ditegaskan Regional Lead Kalimantan Tanoto Foundation Roselina Ping Juan, KIARA dibentuk sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan seluruh unsur pentahelix, mulai dari organisasi perangkat daerah (OPD), akademisi, komunitas, media, dunia usaha, hingga masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan dan anak usia dini.
"KIARA merupakan forum bagi komunitas, OPD, dan seluruh pihak yang peduli terhadap anak usia dini dan pendidikan. Kami ingin semua penggerak ini duduk bersama untuk mencari solusi terhadap persoalan yang dihadapi anak-anak kita," sebutnya.
Baca Juga: Bukan Sekadar Penelitian, Universitas Mulia Turunkan Hasil Riset PAUD Langsung ke Masyarakat
Ia menjelaskan, Tanoto Foundation selama ini memusatkan perhatian pada dua isu utama, yakni pengasuhan dan stimulasi dini anak (Parenting and Early Stimulation/PES) serta literasi dan numerasi dasar (Foundational Literacy and Numeracy/FLN). Kedua aspek tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam mempersiapkan generasi Indonesia Emas 2045.
"Kami mengadvokasi dua isu penting, yaitu pola asuh dan stimulasi dini, serta literasi dan numerasi. Dua hal inilah yang menjadi fondasi anak-anak kita untuk menghadapi masa depan,” kata Ping kepada Kaltim Post.
Berbeda dengan forum diskusi pada umumnya, KIARA juga dirancang menghasilkan langkah nyata. Setelah sesi talkshow, peserta dari berbagai latar belakang mengikuti workshop untuk menyusun rencana aksi yang dapat diterapkan di masyarakat.
Ping mengatakan seluruh gagasan yang muncul akan dikumpulkan, disusun, kemudian dibahas bersama Pemerintah Kota Balikpapan agar dapat menjadi bagian dari kebijakan pembangunan daerah.
Baca Juga: "Kami Bukan Anak Tiri NKRI", Jeritan Pemuda Perbatasan Long Apari Soroti Mahalnya Harga Bahan Pokok
"Ide-ide yang lahir dari workshop ini akan kami kumpulkan, lalu kami diskusikan bersama pemerintah kota. Harapannya, hasilnya bisa menjadi dasar penyusunan kebijakan ataupun regulasi yang mendukung pengasuhan, stimulasi dini, serta literasi dan numerasi anak," jelasnya.
Menurutnya, Tanoto Foundation tidak ingin hasil forum berhenti sebagai rekomendasi di atas kertas. Seluruh rencana aksi diarahkan agar dapat diterapkan hingga tingkat paling bawah atau akar rumput melalui kolaborasi bersama masyarakat.
"Yang paling penting adalah bagaimana ide-ide ini benar-benar bisa diterapkan di level grassroot bersama masyarakat. Dari situ kami juga akan memperkuat advokasi kepada pemerintah agar isu pengasuhan dan literasi semakin mendapat perhatian dalam perencanaan pembangunan daerah," ungkap Ping.
Ia berharap pola kolaborasi yang dibangun melalui KIARA mampu memperkuat sinergi antara pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat, dunia usaha, dan komunitas sehingga upaya meningkatkan kualitas pengasuhan serta literasi anak tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.
Untuk memastikan komitmen tersebut berjalan, Tanoto Foundation menetapkan tenggat waktu pelaksanaan rencana aksi selama 90 hari. Setiap tahapan akan dievaluasi secara bertahap agar seluruh pihak tetap bergerak sesuai target.
Baca Juga: 119 Kebakaran Terjadi di Samarinda, Korsleting Listrik Jadi Biang Keladi Terbesar
"Kami menargetkan ada rencana aksi dalam 30 hari, 60 hari, hingga 90 hari. Jadi setelah forum ini selesai, pekerjaan kita justru baru dimulai karena setiap pihak memiliki tindak lanjut yang harus dilaksanakan," tuturnya.
Melalui pendekatan kolaboratif itu, KIARA diharapkan menjadi awal lahirnya gerakan bersama yang tidak hanya memperkuat pengasuhan dan literasi anak usia dini, tetapi juga mendorong lahirnya kebijakan yang berpihak pada anak.
Sebab, bagi Tanoto Foundation, setiap anak berhak tumbuh di lingkungan yang aman, memperoleh perlindungan, serta menikmati akses pendidikan yang berkualitas dan setara sebagai bekal menuju Indonesia Emas 2045. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo