Hari Suci Asadha 2570 BE di Balikpapan, Umat Buddha Diajak Dalami Dhamma dan Perkuat Toleransi

Muhammad Taufik • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 19:10 WIB
Umat Buddha di Balikpapan memperingati Hari Suci Asadha 2570 Buddhist Era (BE), Sabtu (8/8). (FOTO M TAUFIK/KP)
Umat Buddha di Balikpapan memperingati Hari Suci Asadha 2570 Buddhist Era (BE), Sabtu (8/8). (FOTO M TAUFIK/KP)

KALTIMPOST.ID-Umat Buddha di Balikpapan memperingati Hari Suci Asadha 2570 Buddhist Era (BE), Sabtu (8/8), dengan menggelar rangkaian ibadah di Mahavihara Buddhmanggala, Batu Ampar.

Kegiatan diawali dengan pembacaan Paritta Buddhamanggala Tipitaka Chanting di area candi, sebagai bentuk penghormatan terhadap salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah agama Buddha.

Bhikkhu Sri Subhapanno Mahathera menjelaskan, Hari Suci Asadha memperingati momentum ketika Sang Buddha Gotama pertama kali membabarkan Dhamma setelah mencapai penerangan sempurna di bawah Pohon Bodhi. Ajaran pertama tersebut dikenal sebagai Dhammacakkappavattana Sutta atau khotbah pemutaran roda Dhamma.

“Dua bulan setelah mencapai penerangan sempurna di bawah Pohon Bodhi, Beliau membabarkan Dhammacakkappavattana Sutta sebagai awal penyebaran ajaran Buddha,” ujarnya.

Baca Juga: Okupansi Hotel Berbintang di Balikpapan Naik Jadi 59,02 Persen, Industri Perhotelan Mulai Pulih

Khotbah pertama itu disampaikan kepada lima murid pertama Sang Buddha, yakni Yang Arya Kondañña, Vappa, Bhaddiya, Mahānāma, dan Assaji. Peristiwa tersebut juga menandai lahirnya Sangha sehingga melengkapi Tiratana atau Tiga Permata, yakni Buddha, Dhamma, dan Sangha, sebagai landasan keyakinan umat Buddha.

Menurut Sri Subhapanno, peringatan Hari Asadha tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga menjadi kesempatan bagi umat untuk memperdalam pemahaman terhadap Dhamma dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Harapannya umat Buddha di Balikpapan, Samarinda, dan sekitarnya semakin menyelami ajaran Buddha Gotama serta menerapkannya dalam kehidupan,” katanya.

Ia menjelaskan, pengamalan Dhamma diwujudkan melalui pengendalian diri, menjaga moralitas, serta menghindari perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Buddha, seperti membunuh, mencuri, berbohong, berzina, maupun mengonsumsi minuman yang memabukkan.

Umat juga didorong aktif membantu sesama, menjaga kelestarian lingkungan, serta menghormati seluruh makhluk hidup.

Selain memperkuat kehidupan spiritual, peringatan Hari Asadha juga menjadi momentum mempererat kerukunan antarumat beragama. Sri Subhapanno menegaskan Mahavihara Buddhmanggala selama ini terbuka sebagai ruang dialog dan kegiatan lintas agama.

“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga dan merawat toleransi, atau dalam arti sederhana membangun kesetaraan dalam kehidupan bermasyarakat,” tuturnya.

Ia berharap komunikasi dan kerja sama antartokoh lintas agama di Balikpapan, hingga tingkat nasional terus terjalin sehingga harmoni sosial tetap terpelihara.

“Mari menjaga keselarasan dan kesinambungan agar kita tetap hidup berdampingan sebagai satu keluarga besar umat manusia,” pungkasnya. (rd)

Editor : Romdani.
Umat Buddha Balikpapan Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud penajam paser utara ibu kota nusantara Kutai Barat