Mamalia Laut Langka Ditemukan Mati di Pantai Seraya Balikpapan, Ini Penyebabnya

Dina Angelina • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 16:52 WIB
KASUS KEDUA: Petugas dan warga menangani bangkai lumba-lumba tanpa sirip punggung (Neophocaena phocaenoides) yang ditemukan mati terdampar di Pesisir Pantai Seraya, Sepinggan, Balikpapan Selatan, Kalimantan Timur, Rabu (19/8/2026). 
KASUS KEDUA: Petugas dan warga menangani bangkai lumba-lumba tanpa sirip punggung (Neophocaena phocaenoides) yang ditemukan mati terdampar di Pesisir Pantai Seraya, Sepinggan, Balikpapan Selatan, Kalimantan Timur, Rabu (19/8/2026). 

BALIKPAPAN – Penemuan bangkai mamalia laut kembali menggegerkan warga Kota Minyak. Seekor lumba-lumba tanpa sirip punggung (Neophocaena phocaenoides) ditemukan tewas terdampar di Pesisir Pantai Seraya, Kelurahan Sepinggan, Kecamatan Balikpapan Selatan, Kalimantan Timur, Rabu (19/8/2026).

​Insiden tragis ini menambah daftar panjang kasus mamalia terdampar di pesisir Balikpapan. Peristiwa ini menjadi kasus kedua sepanjang tahun 2026, sebelumnya seekor lumba-lumba jenis Fraser ditemukan mati di Pantai Swadaya, Balikpapan Timur, akhir Juni lalu.

​Kepala Balai Pengelolaan Kelautan (BPK) Pontianak, Syarif Iwan Taruna Alkadrie, menegaskan bahwa satwa yang ditemukan tersebut tergolong sangat langka. Spesies ini berstatus rentan (vulnerable) dalam daftar merah IUCN, masuk daftar Appendix I CITES. Hewan ini dilindungi penuh oleh pemerintah melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 66 Tahun 2025.

​Saat ditemukan, kondisi bangkai satwa yang memiliki panjang tubuh 125 sentimeter ini telah mengalami pembusukan tingkat lanjut atau fase 4.

​"Berdasarkan pengamatan, lumba-lumba ini sudah cukup lama mati dan terapung di lautan, terbawa arus hingga akhirnya terdampar. Setelah pengukuran tanpa penimbangan bobot, bangkai lumba-lumba tersebut langsung kami kubur," terang Iwan, Kamis (20/8/2026).

Kondisi bangkai lumba-lumba saat dievakuasi terbilang sangat prihatin. Terdapat luka terbuka di area punggung dan bagian kepala sudah menjadi tengkorak dengan sisa kulit dan daging yang minim. Kerusakan fisik parah ini membuat BPK Pontianak tidak melakukan nekropsi maupun pengambilan sampel organ.

​"Kami tidak bisa memastikan apakah luka di punggung itu muncul saat masih hidup atau setelah mati. Ukuran rata-rata dewasanya mencapai 150–170 sentimeter, kemungkinan besar lumba-lumba yang mati ini berusia remaja dan berjenis kelamin betina," lanjutnya.

​Petugas bergerak cepat menguburkan bangkai satwa tersebut di sekitar lokasi penemuan. Langkah ini diambil untuk menghindari bahaya penularan penyakit zoonosis dari bangkai mamalia laut ke masyarakat. Apalagi Pantai Seraya merupakan kawasan publik yang padat aktivitas warga dan nelayan.

Pesisir Balikpapan yang berhadapan langsung dengan Selat Makassar sebenarnya merupakan bagian dari jalur penting Arus Lintas Indonesia (Arlindo) dan ALKI II. Kawasan kaya nutrisi aliran Laut Sulawesi ini menjadi koridor migrasi satwa dilindungi seperti lumba-lumba hidung botol, kepala melon, Fraser, hingga paus sperma dan hiu paus.

​Namun, tingginya lalu lintas kapal industri, polusi sampah plastik, penggunaan alat tangkap tidak ramah lingkungan, serta kebisingan suara mesin kapal menjadi ancaman serius bagi navigasi biosonar mamalia laut.

​"Kebisingan dapat merusak sistem navigasi biosonar mereka, bahkan berisiko memicu tabrakan. Namun untuk penyebab pasti kematian kasus ini, apakah akibat tabrakan kapal atau menelan sampah, tetap butuh analisis penelitian lebih lanjut," tandas Iwan.

BPK Pontianak mengimbau nelayan maupun warga setempat untuk segera melapor ke petugas terdekat apabila menemukan mamalia laut terdampar. Baik dalam kondisi hidup maupun mati untuk penanganan cepat dan pendataan yang akurat. (*)

Editor : Ismet Rifani
lumba lumba mati terdampar Pantai Seraya Sepinggan BPK Pontianak Syarif Iwan Taruna Alkadrie