
Dapatkah sebuah negeri melahirkan pemimpin besar dengan membangun universitas baru? Tidak hanya satu, tetapi sepuluh universitas akan didirikan. Sementara itu, ruang-ruang kelas tempat pertama kali belajar mengeja masih dipenuhi atap bocor dan guru menagih janji kesejahteraan yang tak kunjung tiba?
Sebuah Cerita Pendek Karya Sahari Nor Wakhid
HUJAN turun perlahan. Garis-garis bening mengaburkan halaman sekolah. Udara di ruang guru dipenuhi aroma kopi yang mulai kehilangan hangatnya, bercampur dengan aroma buku-buku lama yang telah menyimpan jejak puluhan tahun pengabdian. Di atas meja kayu yang catnya mulai mengelupas, layar sebuah ponsel memancarkan berita yang sedang memenuhi ruang-ruang percakapan di seluruh negeri. Huruf-hurufnya menyala terang, seakan sengaja menantang siapa pun yang membacanya. Universitas Republik Indonesia akan dibentuk sebagai lembaga pendidikan untuk mencetak calon pemimpin bangsa.
Berita itu tidak bersuara, tetapi mampu mengusik kesunyian Yusril, seorang guru IPS SMP Negeri. Ia menatap layar ponselnya cukup lama sebelum akhirnya mengembuskan napas perlahan.
“Barangkali memang sudah waktunya,” ucapnya.
Baca Juga: Manusia yang Melahirkan Anjing
Kalimat itu meluncur tenang, tetapi terdengar seperti batu yang dijatuhkan ke permukaan danau. Riaknya segera merambat ke seluruh ruangan hingga sampai pada Hikmah, guru matematika yang berada di seberang mejanya. Ia mengangkat wajah dari setumpuk buku latihan yang sedang diperiksanya.
“Waktunya untuk apa, Pak?” tanyanya.
“Mempersiapkan pemimpin. Negeri ini terlalu sering berharap pemimpin besar lahir secara kebetulan. Sudah saatnya mereka dipersiapkan secara khusus,” jawab Yusril mantap.
“Kalau begitu, izinkan saya bertanya. Pohon mana yang lebih pantas disiram lebih dahulu, pucuknya atau akarnya?”
“Kalau akarnya sudah tumbuh, bukankah sekarang saatnya memperkuat pucuknya?”
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




