BALIKPAPAN – Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispustakar) Kota Balikpapan meresmikan Galeri Arsip untuk mengenalkan perjalanan Kota Minyak dari masa ke masa. Menariknya, materi yang terpajang ini tidak dibuat permanen dan bakal dirotasi secara berkala agar pengunjung terus mendapat wawasan baru.
“Materinya akan kami putar agar ketika masyarakat datang lagi, ada hal berbeda yang bisa mereka lihat dan pelajari,” kata Kepala Disputakar Balikpapan, Neny Dwi Winahyu.
Dia menjelaskan, pihaknya mengantongi sekitar 50 koleksi arsip dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) yang telah dilengkapi kode dokumentasi. Sebagian dari koleksi tersebut dipilih secara bergantian untuk ditampilkan pada setiap periode pameran.
Masa pergantian materi pameran dilakukan setiap satu hingga dua bulan. Harapannya galeri ini tidak hanya sebagai tempat melihat arsip, tetapi juga mendorong antusiasme masyarakat untuk kembali berkunjung.
Neny menegaskan, dokumen yang dipajang merupakan arsip sekunder. Sementara itu, dokumen asli atau arsip primer tetap disimpan di ANRI guna menjaga keamanan dan kelestariannya.
Tak berhenti di situ, Dispustakar Balikpapan juga tengah berupaya memperkaya sumber data sejarah dari luar negeri. Penelusuran diarahkan pada arsip-arsip yang berkaitan erat dengan sejarah Balikpapan, termasuk dokumen yang tersimpan di Belanda.
Upaya tersebut dilakukan berkolaborasi dengan ANRI dan pemerintah pusat, mengingat prosesnya membutuhkan koordinasi serta kerja sama lintas negara.
Di tingkat lokal, Disputakar menggandeng sejarawan dan komunitas yang aktif merawat sejarah kota. Salah satunya melibat sejarawan Rudi, pegiat sejarah yang mengelola Rumah Dahor. Rumah Dahor selama ini menjadi ruang pembelajaran publik yang menghimpun foto-foto lama, arsip, serta cerita lokal Balikpapan.
Menurut Neny, materi pameran yang berlangsung saat ini masih dalam tahap awal dan mayoritas bersumber dari ANRI. Meski demikian, respons masyarakat mulai terlihat positif.
Mulai dari masyarakat umum, sekolah, maupun komunitas dapat mengunjungi Galeri Arsip Balikpapan setiap Senin hingga Jumat sesuai jam pelayanan kantor Dispustakar.
Dia berharap, arsip tidak hanya dilihat sebagai dokumen lama oleh warga. “Dari sini masyarakat bisa mengenal bagaimana Balikpapan tumbuh dan mengetahui cerita yang menjadi bagian dari perjalanan kota,” tutupnya. (*)
Editor : Ismet Rifani