BALIKPAPAN – Institut Teknologi Kalimantan (ITK) membuka ruang bagi masyarakat untuk melihat langsung pengembangan baterai berbasis biomassa. Melalui rangkaian Diseminasi BINTANG (Biomassa untuk Inovasi Baterai Berkelanjutan bagi Generasi Mendatang), hasil riset diperkenalkan melalui edukasi, lokakarya hingga pameran inovasi.
Salah satu agenda utama, BINTANG Discovery Day, tidak hanya diisi pemaparan materi. Peserta juga mendapat pengalaman langsung melalui Lokakarya Eksperimen Pembuatan Baterai Ramah Lingkungan.
Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan pada proses perakitan prototipe baterai pouch cell dan coin cell berbasis limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Lokakarya dipandu tim peneliti Baterai Ramah Lingkungan dari Pusat Riset Elektrokimia ITK, Winardi Dian Wahyu Pratama.
Ketua Pusat Riset Elektrokimia ITK Yunita Triana mengatakan, rangkaian kegiatan BINTANG dirancang untuk mendekatkan hasil penelitian kepada masyarakat sekaligus membuka ruang kolaborasi.
Discovery Day juga menghadirkan sejumlah sesi pemaparan terkait riset, inovasi dan energi terbarukan. Dr. M. Ir. H. Fitriansyah, S.T., M.M. membahas riset dan inovasi sebagai solusi pemanfaatan potensi daerah.
Baca Juga: ITK Kenalkan Riset Baterai dari Limbah Biomassa kepada 1.600 Peserta
Selanjutnya, Dicky Edwin Hindarto memaparkan potensi limbah biomassa sebagai sumber energi terbarukan di Kalimantan Timur. Sementara Sujono Cipto Trisno, M.Pd. menyampaikan materi mengenai pengembangan inovasi baterai biomassa dari laboratorium hingga masyarakat.
Selain Discovery Day, BINTANG Innovation Expo menampilkan sekitar 30 produk inovasi di bidang energi. Salah satunya teknologi baterai berbasis limbah TKKS yang dikembangkan Pusat Riset Elektrokimia ITK.
“Pengunjung juga bisa melihat berbagai hasil pengembangan riset, produk hilirisasi, serta inovasi dari pusat unggulan ITK, perguruan tinggi, pemerintah daerah, lembaga riset, industri, dan UMKM mitra,” ujar Yunita, Kamis (10/9).
Innovation Expo juga dilengkapi demonstrasi produk dan prototipe teknologi, talk show, science challenge, kuis hingga doorprize. Pameran tersebut menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa hasil penelitian dapat dikembangkan menjadi teknologi dan produk yang memiliki manfaat nyata.
Menurut Yunita, Diseminasi BINTANG tidak hanya ditujukan untuk memperkenalkan teknologi baterai berbasis biomassa. Lebih jauh, kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat hubungan antara dunia riset, pendidikan, pemerintah, industri, UMKM dan masyarakat.
“Pemanfaatan limbah TKKS sebagai material baterai menjadi salah satu contoh bagaimana potensi sumber daya lokal dapat dikembangkan menjadi inovasi yang memiliki nilai tambah dan mendukung pengembangan energi berkelanjutan,” tambahnya.
Dengan potensi biomassa yang besar di Kaltim, pengembangan baterai berbasis material lokal dinilai membuka peluang hilirisasi riset sekaligus pengembangan teknologi energi yang lebih berkelanjutan.
Yunita berharap hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium maupun publikasi ilmiah. Riset tersebut diharapkan terus dikembangkan, diperkenalkan dan pada akhirnya dapat dimanfaatkan masyarakat.
Dia juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) atas dukungan pendanaan melalui Program Semesta In-Saintek 2026.
“Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan riset yang berdampak serta memperkuat pengembangan inovasi baterai berbasis biomassa untuk mendukung energi berkelanjutan di masa depan,” tuntasnya.
Editor : Muhammad Ridhuan