KALTIMPOST.ID-Membatik tak hanya tentang menghasilkan selembar kain bermotif. Proses dan keterampilan di balik pembuatannya juga terus dikenalkan kepada masyarakat lintas generasi, mulai anak usia dini hingga orang dewasa.
Upaya itu terlihat dalam Mahligai Nusantara 2026 x Fentura Pop 2026 di Dome Balikpapan. Sekitar 25 peserta mengikuti praktik membatik yang digelar bersama Bank Indonesia (BI).
Peserta menggunakan gambar dan desain yang telah disiapkan sebagai panduan. Mereka tidak sekadar menghasilkan motif, tetapi juga dikenalkan langsung dengan tahapan membatik.
Owner venue batik Hendri mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan memberikan pemahaman mengenai proses pembuatan batik. Pengetahuan yang diperoleh peserta diharapkan dapat diteruskan kepada kelompok lainnya.
“Tujuannya supaya mereka tahu cara membatik. Nantinya pengetahuan itu bisa diteruskan lagi kepada kader-kader lainnya,” ujar Hendri.
Baca Juga: Pemilihan Ketua RT di Balikpapan Meriah seperti Pemilu, Warga Dapat Doorprize hingga Kipas Angin
Menurutnya, pengenalan proses membatik penting dilakukan sejak usia dini. Sebab, batik tidak hanya perlu dikenal sebagai produk jadi, tetapi juga sebagai karya yang lahir melalui proses dan keterampilan.
Edukasi serupa juga rutin dilakukan di tempatnya. Pesertanya beragam, mulai anak pendidikan anak usia dini (PAUD), pelajar, hingga ibu-ibu Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK).
Sejumlah sekolah bahkan rutin mengajak siswanya belajar membatik setiap tahun. Pergantian siswa membuat edukasi tersebut terus menjangkau generasi berikutnya.
“Setiap tahun muridnya berubah. Mereka datang lagi ke sini untuk belajar membatik,” katanya.
Untuk kunjungan sekolah maupun kelompok masyarakat, jadwal terlebih dahulu disesuaikan agar proses pembelajaran berlangsung optimal.
Selain menjalankan kegiatan edukasi, produksi batik tetap berjalan. Tempat tersebut menyediakan bahan membatik sekaligus menerima pesanan, termasuk seragam sekolah.
Sejumlah sekolah di Balikpapan pernah memesan seragam batik, antara lain SMA 6, SMA 8, SMA 2, dan SMA 3 Balikpapan serta sejumlah sekolah dasar.
Baca Juga: LAPSUS: Antrean Pertalite Mengular di Kaltim tapi Pengecer BBM Menjamur, SPBU Harus Diaudit
Hendri mengatakan, informasi mengenai kegiatan membatik sebelumnya lebih banyak menyebar dari rekomendasi antarmasyarakat.
Kini, media sosial ikut menjadi sarana memperkenalkan kegiatan bersama sekolah maupun kelompok lainnya.
Praktik langsung menjadi cara agar peserta memahami bahwa di balik setiap kain batik terdapat tahapan pengerjaan dan keterampilan yang perlu dipelajari.
Pendekatan itu sekaligus membuka ruang agar pengetahuan membatik tidak berhenti pada satu generasi.
Dalam Mahligai Nusantara 2026 x Fentura Pop 2026, peserta akhirnya tak sekadar membawa pulang karya.
Mereka juga memperoleh pengalaman mengenal proses di balik salah satu warisan budaya yang terus dijaga keberlanjutannya. (rd)
Editor : Romdani.