Terbantu Angin Laut, Kabut Asap di Balikpapan Lebih Tipis dari Samarinda

Dina Angelina • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 17:19 WIB
KABUT ASAP: Pemandangan langit pagi di salah satu sudut Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, yang mulai terekspos paparan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Kamis (17/9/2026. Meski terlihat berkabut, fenomena ini diklaim lebih tipis dibandingkan kota tetangga seperti Samarinda, berkat sirkulasi angin laut yang membantu
KABUT ASAP: Pemandangan langit pagi di salah satu sudut Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, yang mulai terekspos paparan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Kamis (17/9/2026. Meski terlihat berkabut, fenomena ini diklaim lebih tipis dibandingkan kota tetangga seperti Samarinda, berkat sirkulasi angin laut yang membantu 'mendorong' asap keluar dari kota. (FOTO: ANGGI PRADITHA/KP)

BALIKPAPAN — Stasiun Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Timur memastikan paparan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum mengganggu aktivitas penerbangan komersial di Bandara SAMS Sepinggan, Balikpapan, secara signifikan.

​Prakirawan BMKG Kaltim, Ilham Fachturoni, menjelaskan bahwa jarak pandang di langit Balikpapan masih tergolong aman bagi penerbangan pesawat komersial berbadan besar. 

​"Namun, untuk pesawat-pesawat kecil yang biasanya menuju ke daerah terpencil kadang masih terkendala karena terbatasnya jarak pandang," ujar Ilham.

Adanya sejumlah penerbangan yang sempat dialihkan (divert) baru-baru ini bukan disebabkan oleh cuaca di Balikpapan, melainkan jarak pandang yang terbatas di bandara tujuan.

Ilham memaparkan, jarak pandang di Balikpapan saat ini bersifat fluktuatif. Pada siang hari, jarak pandang berkisar antara 7.000 hingga 10.000 meter. Sementara pada pagi hari, pekatnya konsentrasi asap membuat jarak pandang menurun hingga 3.000 meter.

​Meski demikian, kondisi kabut asap di Balikpapan tergolong relatif lebih tipis dibandingkan wilayah lain di Kalimantan Timur, seperti Samarinda atau Kutai Barat. Selain karena jumlah titik panas (hotspot) yang lebih sedikit, letak geografis Balikpapan yang berbatasan langsung dengan laut memberikan keuntungan alami.

​"Balikpapan dekat dengan laut, maka sirkulasi angin dari laut itu sedikit mendorong asap pergi ke arah barat atau utara," bebernya.

​Meski sirkulasi udara membantu menghalau asap, BMKG mengimbau masyarakat Balikpapan untuk tidak lengah dan tetap mengantisipasi dampak kesehatan akibat karhutla.

​"Belum ada alat yang benar-benar mengukur kepastian, warga tetap terpapar asap. Maka dari itu, masyarakat diharapkan tetap waspada," tutup Ilham. (*)

Editor : Ismet Rifani
Bandara SAMS Sepingan kabut asap karhutla BMKG Kalimantan Timur Ilham Fachturoni