BALIKPAPAN- Datangdengan kepercayaan diri tinggi, gadis cilik yang akrab disapa Rere itu dinobatkan sebagai juara umum dalam ajang Grand Final Duta Lingkungan Hidup Cilik di Gedung Kesenian Balikpapan, Sabtu (12/9/2026).
Ia berhasil menyisihkan sekitar 118 peserta putri dari berbagai sekolah setelah melalui proses seleksi ketat hingga babak empat besar.
Kemenangan ini terasa istimewa karena lahir dari rutinitas sederhana di lingkungan keluarga. Sejak kecil, sang ibu telah membiasakan anak-anaknya hidup tertib dan menjaga kebersihan kamar masing-masing tanpa kompromi.
"Kalau di rumah, jujur saja, saya anti kotor. Sampah itu saya siapkan di kamar masing-masing anak, termasuk di kamar saya sendiri. Di kamar mandi juga ada tempat sampah. Setiap ruangan saya kasih tempat sampah," kata ibunda Rere, Dana Sukma Wardani.
Di rumah, hal-hal sepele ditekankan menjadi kebiasaan mutlak. Mulai dari langsung membuang kapas pembersih wajah ke tempat sampah, membuang botol air mineral sekali pakai, merapikan bungkus camilan, hingga menutup kembali pasta gigi seusai menyikat gigi.
"Anak-anak ini bukan cuma Rere. Kakak-kakaknya juga. Bangun tidur sudah paham, kamar harus bersih. Itu sudah saya terapkan dari mereka kecil," ujar Dana.
MENTAL TANGGUH PENYANYI
Sebelum melangkah ke dunia duta lingkungan, siswi kelas VI SDN 030 Balikpapan Utara kelahiran Samarinda, 3 Oktober 2014, ini lebih dulu mengukir prestasi lewat olah vokal. Rere pernah menyabet medali emas Nusantara Young Music Olympiade hingga menjuarai Asian Ethnic Got Talent International 2026 di Jakarta.
Kendati sarat prestasi seni, kegagalan tetap pernah dirasakannya. Rere sempat tersingkir pada pemilihan Duta Lingkungan Hidup Cilik tahun lalu, namun penolakan itu justru memicu tekadnya untuk mendaftar kembali secara mandiri tahun ini.
"Mungkin ada rasa penasarannya karena tahun kemarin dia belum berhasil. Saya sendiri sebenarnya tidak tahu kalau ada pendaftaran lagi. Justru saya tahu dari Rere, dan memang rezekinya," tutur Dana.
Selama hampir tiga pekan karantina dan pembekalan, Rere digembleng dengan latihan catwalk, public speaking, pembuatan proyek video hemat energi di sekolah, hingga kunjungan kerja ke instansi pemerintahan tanpa pendampingan orang tua.
Dana selalu menekankan pentingnya berlapang dada dalam setiap perlombaan. Baginya, menang atau kalah adalah bagian dari proses pembentukan karakter anak di masa depan.
"Pesan saya satu saja sama Rere, ilmu. Apa yang kamu pelajari tahun kemarin harus kamu ingat kembali. Kalau sudah terjun, mentalmu harus dibentuk. Menang, kalah, atau apa pun yang kamu dapat, harus kamu terima," tegasnya.
Kini, Rere memikul amanah baru untuk mengampanyekan kepedulian lingkungan hidup bagi generasi muda di Kota Minyak. Gelar tersebut menjadi medium nyata baginya untuk menularkan kebiasaan memilah sampah dan mencintai bumi.
"Harapan saya, dengan jabatan dia sekarang, dia bisa menginspirasi anak-anak seumuran maupun orang dewasa untuk menjaga lingkungan dan menjaga bumi. Yang penting dia tetap rendah hati," pungkas Dana. (*)
Editor : Ismet Rifani