KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Guru Literasi Numerasi (Gulinum) Balikpapan bersama Tanoto Foundation meluncurkan media pembelajaran inovatif berupa dadu bergambar guna mendongkrak kemampuan literasi para pelajar tingkat sekolah menengah pertama (SMP).
Inovasi berbasis permainan tersebut dipamerkan dalam agenda showcase pembelajaran di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Balikpapan, Jumat (18/9). Langkah ini difokuskan untuk membantu sepuluh sekolah sasaran yang nilai rapor pendidikannya pada indikator literasi masih berada pada kategori kuning atau perlu ditingkatkan.
Ketua Gulinum Balikpapan Nurhidayah menjelaskan, media dadu bergambar dirancang sebagai pemantik bagi peserta didik agar lebih mudah merangkai kalimat sederhana hingga menyusun cerita utuh. Berbeda dengan dadu konvensional yang memuat angka satu sampai enam, dadu edukatif ini dirancang dengan enam set gambar tematik yang aplikatif dan ekonomis.
Baca Juga: Beban Sertifikasi SNI Bikin IKM Gamang Naik Kelas, Komisi VII Beri Atensi Khusus
"Kalau hanya disuruh membuat kalimat, murid pasti kesulitan karena butuh pemicu. Melalui set gambar di dadu ini, anak-anak punya panduan untuk berbicara maupun menulis cerita, sehingga suasana kelas hidup dan literasi mereka terasah," ujar Nurhidayah, yang juga Fasilitator Daerah (Fasda) Tanoto Foundation sekaligus guru SMP 4 Balikpapan.
Sebanyak sepuluh sekolah sasaran dipilih mewakili seluruh kecamatan di Balikpapan, di antaranya SMP 4, SMP PGRI 7, SMP 8, SMP 23, SMP Wiyatamandala, SMP Advent, SMP 27, dan SMP 24. Setiap sekolah mengutus dua orang guru, yakni guru mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, untuk mengimplementasikan metode ini di kelas.
Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdikbud Balikpapan Supriyani menegaskan, esensi literasi tidak boleh berhenti sebatas rutinitas membaca sepuluh menit di awal jam pelajaran. Guru memegang peranan kunci untuk membimbing siswa memahami teks, merefleksikan makna, hingga melahirkan karya baru dari apa yang telah dibaca.
Baca Juga: September, Kesempatan Terakhir Dapatkan Yamaha Grand Filano di Lokale
"Literasi itu bukan hanya sekadar anak bisa membaca lalu selesai. Bagaimana mereka memaknai, menerapkan dan menceritakan kembali apa yang dibaca dengan bahasa sendiri, di situlah esensi literasi yang sesungguhnya," tegas Supriyani.
Ia menambahkan, guru dituntut adaptif mengubah metode pengajaran lama agar selaras dengan karakteristik siswa Generasi Z. Mutu pendidikan sangat ditentukan oleh kemauan pendidik dalam memperbarui kompetensi serta menciptakan suasana belajar yang bermakna.
Sementara itu, Project Management Unit Coordinator Tanoto Foundation Affan Surya menyebutkan, pendekatan bermain sengaja dipilih agar proses belajar mengajar terasa menyenangkan bagi murid. Di Balikpapan sendiri, terdapat 32 Fasda Tanoto Foundation yang mencakup pembelajaran jenjang SD, SMP, hingga penguatan kepemimpinan kepala sekolah.
"Tujuan utamanya adalah memudahkan siswa menyerap pembelajaran lewat permainan. Kami mendorong agar inovasi dari sepuluh sekolah percontohan ini disebarluaskan ke sekolah lain melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dan komunitas belajar," ungkap Affan.
Regional Lead Tanoto Foundation Kalimantan Rosalina Ping Juan menambahkan, program Fasda Perubahan dirancang untuk memberi wadah bagi guru penggerak dalam menuangkan ide kreatif. "Pendampingan ini diharapkan mampu mengakselerasi perbaikan rapor pendidikan secara nyata di Kalimantan Timur," tegasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo