KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Balikpapan terus memperkuat kompetensi tenaga pendidik jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) melalui program Guru Literasi Numerasi (Gulinum) hasil kolaborasi bersama Tanoto Foundation.
Kemitraan yang terjalin sejak 2018 ini difokuskan untuk membenahi kualitas pembelajaran di ruang kelas serta mempercepat pengentasan persoalan literasi dan numerasi dasar siswa.
Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdikbud Balikpapan Supriyani menyatakan, pendampingan fasilitator daerah secara konsisten telah mendorong guru melahirkan berbagai inovasi pengajaran yang bermakna.
"Kemitraan dengan Tanoto Foundation ini sudah berjalan intensif sejak 2018 untuk meningkatkan kompetensi guru dan mutu belajar di Balikpapan, khususnya jenjang SMP," ungkap Supriyani.
Baca Juga: Bukan Cuma Nonton Medsos, Siswa SDIT Istiqomah Balikpapan Diajak Belajar Jadi Jurnalis
Ia mengingatkan para pendidik agar menguasai empat pilar kompetensi secara utuh, yaitu sosial, kepribadian, pedagogik, dan profesional. Menurutnya, tantangan zaman menuntut keseimbangan karakter dan kecakapan mengajar.
"Generasi guru boleh berbeda-beda, tetapi penguasaan empat kompetensi itu mutlak. Guru tidak cukup hanya paham pedagogik dan profesional, melainkan wajib kuat dalam aspek sosial dan kepribadian," kata Supriyani menegaskan.
Dalam kesempatan tersebut, Supriyani meminta pihak sekolah mengubah cara pandang terhadap peran pengawas satuan pendidikan. Pengawas masa kini bukan lagi sosok pemeriksa yang kaku, melainkan mitra pendamping bagi kepala sekolah dan guru.
Ia mengimbau para pendidik bersikap transparan dalam menyampaikan kendala riil di lapangan agar solusi yang dirumuskan tepat sasaran.
Baca Juga: Kapal Domestik yang Singgah di Balikpapan Naik, Tapi Masih Jauh di Bawah Tahun Lalu
"Kehadiran pengawas di sekolah bukan untuk mengawasi, tetapi mendampingi dan membantu memecahkan masalah di kelas. Karena itu, tolong jujur sejujur-jujurnya, jangan ada persoalan yang ditutup-tutupi," tuturnya.
Disdikbud Balikpapan juga menggarisbawahi komitmen penanganan anak rentan putus sekolah. Pihak sekolah diminta tidak mengambil jalan pintas dengan memindahkan atau mengeluarkan siswa yang menghadapi kendala perilaku maupun belajar.
"Tugas kita mendidik dan menanamkan karakter. Mengeluarkan siswa yang bermasalah sama saja dengan memindahkan persoalan ke pihak lain, bukan membina secara tuntas," ucapnya.
Menyoal kemampuan dasar siswa, Supriyani mengakui masih ditemukan siswa jenjang SMP yang terkendala kemampuan membaca dan berhitung dasar. Sekolah didorong mengalokasikan anggaran BOS atau BOSP secara tepat guna menghadirkan kelas tambahan afirmatif.
Setiap satuan pendidikan kini telah mengantongi hasil pemetaan rapor pendidikan yang memperlihatkan titik lemah literasi dan numerasi siswa secara mendetail.
Di sisi lain, Disdikbud mengkritisi metode konvensional yang masih membebani siswa di luar jam sekolah, seperti penugasan merangkum buku cetak dan tumpukan pekerjaan rumah (PR).
Baca Juga: Arus Barang Laut Internasional Balikpapan Anjlok, Bongkar Turun 95,62 Persen
Harapan kurikulum saat ini adalah mengurangi beban tugas di rumah setelah anak belajar seharian hingga sore. Jangan lagi ada kebiasaan guru menyuruh murid merangkum tebal-tebal seperti zaman dulu, buatlah pembelajaran yang aktif dan menyenangkan," pungkas Supriyani. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo