Kabut Asap Selimuti Balikpapan, SD 012 Tiadakan Kegiatan Luar Ruangan Tiga Pekan

Dina Angelina • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 16:46 WIB
TERDAMPAK ASAP: Siswa SD 012 Balikpapan Timur mengenakan masker saat mengikuti aktivitas belajar mengajar di dalam kelas, Balikpapan, Kalimantan Timur. Pihak sekolah membatasi kegiatan di luar ruangan akibat kabut asap dampak karhutla yang menyelimuti wilayah tersebut.
TERDAMPAK ASAP: Siswa SD 012 Balikpapan Timur mengenakan masker saat mengikuti aktivitas belajar mengajar di dalam kelas, Balikpapan, Kalimantan Timur. Pihak sekolah membatasi kegiatan di luar ruangan akibat kabut asap dampak karhutla yang menyelimuti wilayah tersebut. 

BALIKPAPAN — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Kota Balikpapan selama dua pekan terakhir. Kendati demikian, para siswa sekolah dasar tetap menjalani aktivitas pembelajaran tatap muka di sekolah secara terbatas dengan menerapkan protokol kesehatan ketat.

​Di SD 012 Balikpapan Timur, pihak sekolah memutuskan untuk meniadakan seluruh kegiatan di luar ruangan, seperti upacara bendera dan pelajaran olahraga, sejak tiga pekan lalu demi mengantisipasi dampak buruk kualitas udara.

​Kepala SD 012 Balikpapan Timur, Ngatiani, menjelaskan bahwa kebijakan ini diambil selaras dengan imbauan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Balikpapan.

​“Melihat situasi udara yang kurang baik, siswa diimbau menggunakan masker. Kegiatan luar ruangan juga sementara kami batasi agar siswa tetap berada di dalam kelas,” ujar Ngatiani.

​Ngatiani memastikan, hingga saat ini belum ada laporan siswa yang terpapar Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kesadaran siswa untuk menerapkan mitigasi secara mandiri pun tergolong tinggi.

​“Anak-anak diimbau berangkat sekolah memakai masker. Sejauh ini mereka secara mandiri datang sudah menggunakan masker, meski kalau di dalam kelas kadang ada yang melepas,” tuturnya.

​Terkait opsi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), pihak sekolah menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada Disdikbud Balikpapan yang saat ini masih memantau perkembangan kondisi udara. PJJ baru akan diterapkan jika situasi dinilai makin memburuk.

​Namun, Ngatiani menilai skema PJJ kurang efektif untuk proses belajar mengajar. Menurutnya, pembelajaran di rumah berisiko membuat fokus siswa berkurang, meningkatkan potensi anak bermain di luar rumah, hingga memicu kendala jaringan internet.

​Selain itu, keberlangsungan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dianggap penting agar distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi para siswa berjalan optimal.

​“Kalau libur sekolah tetapi harus mengambil MBG, lebih baik tetap belajar di sekolah. Alhamdulillah, penggunaan masker ini menjadi langkah mitigasi awal yang efektif,” pungkasnya. (*)

Editor : Ismet Rifani
kabut asap SD 012 Balikpapan Timur Ngatiani