KALTIMPOST.ID-Keindahan dan keunikan barang kerajinan tangan karya perajin Kota Minyak tidak lagi cukup hanya bersandar pada etalase toko atau stan pameran fisik.
Di tengah perubahan pola belanja masyarakat yang serba daring, keahlian memasarkan produk lewat kanal digital kini menjadi penentu utama kelangsungan usaha.
Dinas Koperasi, UMKM, dan Perindustrian (DKUMKMP) pun menaruh perhatian serius terhadap penguatan kapasitas teknologi ini.
Transformasi digital dipandang sebagai kunci penting agar karya bernilai seni tinggi tidak layu sebelum berkembang.
Baca Juga: Regenerasi Pengrajin Balikpapan Jadi Tantangan, Kurang dari 10 Persen Anak Muda Serius Tekuni Batik
Kepala DKUMKMP Balikpapan Heruressandy Setya Kesuma menegaskan bahwa penguasaan teknologi digital telah menjadi kebutuhan mendesak bagi para pelaku usaha kecil. Keterampilan produksi yang mumpuni akan sia-sia apabila tidak diimbangi dengan strategi pemasaran modern.
“Yang paling penting lagi digitalisasi. Karena tanpa digitalisasi, teman-teman akan kesulitan dalam rangka pemasaran maupun perencanaan apa pun,” tegas Heruressandy.
Menurutnya, pola transaksi konsumen saat ini telah bergeser drastis. Penjualan konvensional yang hanya bertumpu pada agenda pameran tatap muka tidak lagi memadai untuk menopang perputaran omzet usaha harian secara berkesinambungan.
Maka, setiap karya kriya wajib memiliki jejak digital yang kuat di jagat maya agar mudah dilacak calon pembeli potensial dari berbagai pelosok. Pelatihan yang diberikan kepada para pelaku usaha pun kini tidak lagi semata berfokus pada teknik pembuatan produk.
“Para pengrajin harus dibekali wawasan membangun merek, meramu cerita di balik produk, serta memaksimalkan media sosial sebagai etalase jualan,” jelasnya.
Ajang pameran seperti Mahligai Nusantara 2026 yang sudah dilangsungkan Bank Indonesia, dinilainya memiliki peran strategis sebagai jembatan promosi lintas platform.
Baca Juga: Kabut Asap di Kutim Bikin Belajar Jarak Jauh, Distribusi MBG untuk TK hingga SMP Masih Dihentikan
Stan fisik berfungsi sebagai ruang kurasi dan transaksi awal, sementara gaung promosi lanjutannya digerakkan secara masif melalui interaksi warganet.
“Itu bisa membuat daya tarik pengunjung untuk melihat langsung, bahkan mempublikasikannya melalui media sosial masing-masing,” tutur Heruressandy mengajak peran aktif publik dan media.
Manfaat digitalisasi sejatinya tidak berhenti pada pintu penjualan semata, melainkan merambah tata kelola internal perajin.
Pencatatan arus kas, rekapitulasi data pesanan, pengelolaan bahan baku, hingga pelayanan konsumen kini jauh lebih rapi jika ditopang piranti digital.
Heruressandy memastikan pihaknya terus mengawal peningkatan mutu pelaku UMKM melalui pendampingan intensif, pembukaan akses promosi, serta sinergi lintas sektor. Pengawalan ini dirancang terarah pada tiga subsektor ekonomi kreatif utama, yakni wastra, kriya, dan seni ukiran kayu.
Dengan memadukan kemahiran tangan tradisional dan kecakapan digital, perajin lokal diyakini mampu bertahan dan memiliki daya saing kuat di pasar terbuka.
“Sektor kerajinan menjadi salah satu bagian dari ekonomi kreatif yang ditangani DKUMKMP. Pemerintah fokus pada subsektor wastra, kriya dan ukiran kayu, sementara subsektor ekonomi kreatif lainnya ditangani perangkat daerah terkait,” ucapnya.
“Pembagian tersebut diharapkan membuat pendampingan lebih terarah. Di tengah persaingan produk yang semakin terbuka, kemampuan membuat produk sekaligus memasarkannya menjadi dua hal yang tidak bisa dipisahkan,” timpalnya. (rd)
Editor : Romdani.