BALIKPAPAN – Model bimbingan belajar umumnya dibangun dengan menentukan program dan kurikulum terlebih dahulu, kemudian merekrut guru untuk mengajar. MindHive mencoba pendekatan berbeda dengan menjadikan guru sebagai titik awal pengembangan kelas.
Platform pendidikan berbasis aplikasi web ini mengajak pengajar bergabung sebagai mitra. Kelas kemudian disusun berdasarkan kompetensi, minat, jadwal, dan tarif yang ditawarkan masing-masing pengajar. Calon pembelajar dapat memilih kelas sesuai kebutuhan dan tujuan belajarnya.
Founder sekaligus Head of Systems & Finances MindHive, Andrio Suroyo, mengatakan, konsep tersebut berangkat dari gagasan membangun ekosistem belajar yang memberi ruang lebih luas bagi guru untuk mengembangkan kompetensi dan mengelola kegiatan mengajar secara fleksibel.
“Kalau bimbingan belajar konvensional, biasanya sistem dan kurikulum ditentukan terlebih dahulu, kemudian guru direkrut untuk mengikuti sistem tersebut. Kami membalik prosesnya. Guru bergabung sebagai mitra, lalu kami melihat preferensi dan kelas yang ingin mereka tawarkan,” ujarnya.
Baca Juga: Program GEMPITA: Cara Unik Balikpapan Jaga Siswa dari Radikalisme
Konsep itu mulai dikembangkan secara serius pada awal 2026, setelah para penggagasnya bertukar pandangan mengenai pendidikan sejak 2025. MindHive mulai beroperasi pada 3 Oktober 2026.
Melalui platform tersebut, calon pembelajar dan orang tua dapat melihat profil pengajar, bidang keahlian, pilihan kelas, jadwal, kapasitas peserta, serta tarif sebelum menentukan pilihan. MindHive menyediakan sistem digital, tim pendukung, dan ruang belajar bagi pengajar yang ingin membuka kelas.
Pendekatan pembelajaran juga dirancang agar sesuai dengan tujuan masing-masing peserta. Head of Academics MindHive, Alexandra Melissa atau Ms Amy, menjelaskan, kebutuhan pembelajar tidak selalu sama meski mempelajari bidang yang serupa.
Siswa yang ingin meningkatkan kemampuan bahasa Inggris untuk mengikuti pelajaran sekolah, misalnya, memiliki kebutuhan berbeda dengan peserta yang mempersiapkan IELTS. Begitu pula pembelajar yang mengikuti olimpiade.
Karena itu, menurut dia, pengajar perlu melakukan asesmen awal untuk memahami kebutuhan peserta, kemudian menetapkan indikator keberhasilan berdasarkan tujuan pembelajaran yang disepakati.
Layanan yang dikembangkan MindHive juga tidak hanya mencakup mata pelajaran akademik. Head of Growth & Publications MindHive, Adytya Lambang Nugraha, mengatakan, keterampilan seperti pembuatan konten dan menggambar digital berpeluang dikembangkan menjadi kelas, sepanjang dapat diajarkan dengan fasilitas yang tersedia.
Hingga wawancara dilakukan, sekitar 10 profil pengajar telah dipublikasikan di platform. Pilihan kelas yang ditawarkan mencakup bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, menggambar, calistung, pendampingan mata pelajaran sekolah dasar, hingga stimulasi motorik bagi balita. Sebagian kelas masih menunggu pendaftaran peserta sebelum dapat berjalan.
Di sisi lain, model kemitraan yang berbeda dari bimbingan belajar konvensional ini menghadirkan tantangan tersendiri. MindHive perlu memperkenalkan konsepnya kepada masyarakat, membangun kepercayaan orang tua, serta mempertemukan kebutuhan pengajar dan pembelajar secara berkelanjutan.
Pengembangan platform pun diarahkan pada penyajian profil pengajar dan informasi kelas yang lebih jelas, disertai komunikasi kepada orang tua dan calon peserta. Langkah tersebut diharapkan membantu masyarakat memahami sistem yang ditawarkan.
Bagi MindHive, keberhasilan model ini tidak hanya ditentukan oleh tersedianya pengajar dan pilihan kelas, tetapi juga kemampuan membangun kepercayaan serta memastikan kelas yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan pembelajar.
Editor : Muhammad Ridhuan