KALTIMPOST.ID-Aktivitas rutin membersihkan kapal nyaris merenggut nyawa Abdul Majid (56), warga Kampung Tabalar Muara, Kecamatan Tabalar.
Ia diserang seekor buaya saat berada di tepi Sungai RT 3, Kampung Tabalar Muara, Sabtu (18/7) sekitar pukul 15.30 Wita.
Akibat serangan tersebut, korban mengalami luka robek cukup serius pada kaki kanan hingga mengeluarkan banyak darah.
Beruntung, korban berhasil menyelamatkan diri setelah berteriak meminta pertolongan warga yang berada di sekitar lokasi.
Baca Juga: Konsistensi 4 Tahun PT Cotrans Asia Hijaukan Pesisir Paser lewat Program CAMP
Kasi Humas Polres Berau AKP Suradi membenarkan peristiwa itu. Berdasarkan keterangan yang diterima kepolisian, korban saat itu sedang membersihkan kapal yang bersandar di pinggir sungai ketika seekor buaya tiba-tiba muncul dari dalam air dan langsung menggigit kaki kanannya.
“Korban berusaha melawan sambil berteriak meminta pertolongan warga sekitar. Beruntung, korban berhasil diselamatkan,” ujarnya, Senin (20/7).
Korban kemudian dievakuasi ke Puskesmas Biatan untuk mendapatkan penanganan medis. Tim kesehatan segera menangani luka robek akibat gigitan buaya. Hingga kini kondisi korban dilaporkan sadar dan masih menjalani perawatan.
Insiden tersebut kembali menambah daftar konflik antara manusia dan buaya muara di Kabupaten Berau. Sejumlah sungai di wilayah pesisir diketahui merupakan habitat alami satwa predator tersebut, sementara masyarakat masih bergantung pada sungai untuk beraktivitas, mulai mencari ikan hingga membersihkan kapal.
Menyikapi kejadian itu, Polres Berau mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di bantaran sungai.
Warga diminta tidak mendekati atau mencoba mengusir buaya apabila melihat kemunculannya, melainkan segera menjauh dan melaporkannya kepada pihak terkait.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Berau Hermansyah mengatakan, ancaman serangan buaya masih cukup tinggi di kawasan perairan yang berdekatan dengan permukiman.
Karena itu, masyarakat diminta menghindari aktivitas seorang diri di tepian sungai serta selalu memerhatikan kondisi sekitar.
Menurutnya, kasus serangan buaya di Berau bukan lagi peristiwa baru. Bahkan, beberapa kejadian sebelumnya menimbulkan korban jiwa.
“Kami tidak bisa melarang masyarakat beraktivitas di sungai karena sebagian mencari nafkah di sana. Yang terpenting adalah meningkatkan kewaspadaan karena taruhannya nyawa,” tegasnya. (aky/kpg/rd)
Editor : Romdani.