TANJUNG REDEB – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menjadi ancaman kesehatan masyarakat di Kabupaten Berau. Selain mengganggu kualitas udara, kondisi tersebut diikuti peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dalam beberapa pekan terakhir.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau Lamlay Sarie mengatakan, perubahan kualitas udara mulai terasa seiring meluasnya karhutla di sejumlah wilayah. Asap yang menyelimuti permukiman meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada sistem pernapasan.
Namun, pemerintah daerah belum dapat mengukur kualitas udara luar ruangan menggunakan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) secara resmi. Berau belum memiliki alat khusus pengukur ISPU yang berada di bawah kewenangan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK).
“Sehingga, kualitas udara luar ruangan belum dapat diukur secara langsung menggunakan parameter ISPU,” kata Lamlay, Rabu (26/8).
Sebagai langkah pemantauan, Dinkes memanfaatkan perangkat sanitarian kit yang tersedia di puskesmas untuk mengukur kadar partikulat PM2,5. Meski alat tersebut lebih diperuntukkan bagi pengukuran kualitas udara dalam ruangan, hasilnya tetap memberikan gambaran kondisi udara di wilayah terdampak.
Hasil pengukuran menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Sejumlah kampung mencatat kadar PM2,5 di atas ambang batas. Di Gedung Kantor Dinkes Berau, Tanjung Redeb, misalnya, pengukuran dalam ruangan mencapai 1.050, jauh di atas ambang batas yang disebut berada di bawah 25.
Baca Juga: Samarinda Tetapkan Tanggap Darurat Kekeringan, Tiga IPA Berhenti dan Karhutla Meluas
Temuan tersebut menjadi salah satu dasar Dinkes memetakan risiko kesehatan masyarakat. Pemkab Berau juga telah mengeluarkan edaran bupati terkait penyesuaian aktivitas masyarakat selama kondisi udara terdampak asap.
ISPA Ikut Menanjak
Peningkatan kualitas udara yang memburuk berjalan beriringan dengan kenaikan kasus ISPA. Data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) menunjukkan, pada minggu ke-19 hingga ke-23 2026 tercatat 2.714 kasus ISPA.
Jumlah tersebut meningkat menjadi 3.012 kasus pada minggu ke-24 hingga ke-28. Kenaikan semakin terlihat pada minggu ke-29 hingga ke-33 atau periode Agustus, dengan total 3.587 kasus.
Padahal, sejak minggu pertama hingga minggu ke-18, kasus ISPA belum menunjukkan kenaikan signifikan.
“Namun, mulai memasuki minggu ke-19, kasus mulai mengalami kenaikan,” beber Lamlay.
Dinkes masih melakukan pemantauan terhadap perkembangan kasus maupun kondisi lingkungan untuk melihat keterkaitan tren penyakit dengan paparan asap karhutla.
Masyarakat, terutama kelompok rentan, diminta meningkatkan kewaspadaan. Aktivitas di luar ruangan dianjurkan dikurangi ketika kondisi asap semakin pekat.
“Kelompok rentan sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan untuk menghindari paparan asap dan risiko gangguan pernapasan,” pesannya.
Titik Panas Turun, Waspada Jangan Kendur
Di tengah meningkatnya risiko kesehatan, jumlah titik panas di Berau justru menunjukkan penurunan. Data BMKG Kaltim per 24 Agustus mencatat titik panas turun dari 281 menjadi 51 titik.
Bupati Berau Sri Juniarsih mengapresiasi penurunan tersebut. Namun, kondisi itu dinilai belum menjadi alasan untuk mengendurkan kewaspadaan.
Dari 51 titik panas yang terdeteksi, Segah menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 18 titik. Berikutnya Pulau Derawan 10 titik dan Talisayan delapan titik.
Titik panas lainnya terdeteksi di Sambaliung lima titik, Bidukbiduk empat titik, Batu Putih dan Kelay masing-masing dua titik, serta Gunung Tabur dan Tabalar masing-masing satu titik.
Berau kini berada di posisi kedua daerah dengan titik panas terbanyak di Kaltim setelah Kutai Kartanegara yang mencatat 74 titik.
“Segera laporkan apabila menemukan titik api dan bersama-sama kita jaga lingkungan serta wilayah kita agar aman dari ancaman karhutla,” ujar Sri. (aja/kpg/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan